Showing posts with label eureka. Show all posts
Showing posts with label eureka. Show all posts

Monday, August 7, 2017

I'm Feeling Lucky


PAGI ini ada kejutan kecil. Saat terkoneksi dengan internet, aplikasi musik Spotify di laptop saya menampilkan "Discover Weekly", sebuah chart komposisi musik yang (katanya) khusus buat saya. Yakin?! Iya, yakinlah, lha nama saya disebut: Made for Aswan. Hehehe... Maaf kalau rasa dikejutkan ini terdengar norak. Mungkin karena saya merasa musik itu personal. Sangat personal. Jadi cepat melting begitu tahu ada yang bela-belain buat playlist untuk saya, apalagi mengklaim kalau itu spesial. Dan terdengar meyakinkan saat saxophonist Kim Waters membuka playlist dengan bawakan komposisi Love's Theme. Di satu sisi senang sih bisa nikmati gaya soul jazz, di sisi lain saya juga punya ketakutan tersendiri karena merasa dimata-matai oleh internet. Eh bukan saya saja ding, kita semua sedang dimata-matai oleh internet. Maaf yaa, pake ngajak. Tapi benar kok. Ceritanya begini:

Tuesday, August 1, 2017

Soekarno Anti-Beatles*


SORE itu saya lagi jatuh cinta sama buku kumpulan lagu The Beatles. Hampir tiap ke toko buku G, raknya saya lewati. Lirik sebentar, lalu pergi. Entah, hari itu daya tariknya lebih dari biasanya. Mungkin benar, kadang cinta butuh waktu yang tepat. Hehehe.. Setelah mengambil buku The Beatles tadi, seperti biasa, saya selalu menyempatkan diri menengok kumpulan buku biografi dan sejarah. Ada satu buku tentang Bung Karno yang terpajang sendiri. Begitu coba melihat beberapa bagian isinya, saya terkejut: Bung Karno membenci The Beatles?!

Wednesday, July 19, 2017

Post-Truth: Kontestasi dan Horor*




*) Pendapat dua ahli dalam tulisan ini dikemukakan dalam konferensi internasional bertajuk “Communication Governance and Research: Post-Truth Era”, di Fisip Universitas Indonesia, Depok (11 Juli 2017). Untuk tidak mencampuradukkan antara pendapat mereka dan diskusi yang saya bangun, pendapat mereka diletakkan dalam paragraf yang terpisah dengan komentar saya.



KAMUS Oxford telah memberikan gelar “the word of 2016” pada frase post-truth karena dipandang cukup mewakili apa yang telah terjadi sepanjang tahun 2016. “Post-truth” adalah kata sifat yang berarti keadaan di mana daya tarik emosional dan keyakinan personal lebih mempengaruhi pembentukan opini publik daripada fakta-fakta obyektif. Berdasarkan keterangan editornya, jumlah penggunaan istilah tersebut di tahun 2016 meningkat 2000 persen bila dibandingkan 2015. Sebagian besar penggunaan istilah post-truth merujuk pada dua momen politik paling berpengaruh di tahun 2016: keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit) dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

Saturday, July 1, 2017

cinta dan Cinta


PERCAKAPAN kami menyeruak begitu saja. Tanpa sekat. Tidak ada sapaan "Pak" atau "Ibu". Sebut nama ringkas, sapaan, bahkan ejekan saat sekolah. Group Whatsapp SMA tempat saya sekolah dulu jadi begitu riuh. Cerita dengan topik random berseliweran. Tidak terkecuali soal asmara. Ada beberapa yang membongkar satu-satu skandal masa lalu. Ada juga beberapa yang dengan takzimnya mengingatkan kami untuk ingat umur, ingat uban. Hehehe... Sampai ada yang berkomentar: "Memangnya ada hal yang lebih utama dari Cinta?" Sesaat group hening. Mungkin mereka tidak sangka ada yang akan berkomentar seperti itu. Tapi saya sendiri sepakat. Seperti biasa, tentu dengan argumentasi sok tahu ala Aswan.

Sunday, June 25, 2017

Selamat (Kartu) Lebaran


YANG tumbuh dewasa di era 90an mungkin akan kangen dengan kartu lebaran. Setidaknya ingat tradisi berbagi kartu lebaran saat jelang Hari Raya. Orang yang paling sibuk se-Indonesia yaa pak Pos. Tidak jarang nanti setelah hari H ada beberapa kartu yang baru sampai ke tangan. But it's ok, selembar surat itu tetap punya nilai personal. Bahkan jika menoleh ke belakang, kartu lebaran bisa bernuansa politis dan bahkan bisnis.

Friday, June 23, 2017

Umur Oh Umur



MENDADAK suara beduk sebelum adzan Jumat hari ini terasa begitu pilu. Seperti ucapan "Selamat Jalan Ramadhan". Saya sendiri bingung dengan apa yang saya rasa. Di satu sisi, bahagia karena sebentar lagi lebaran. Tapi di sisi lain, saya malah merasa sedih bukan kepayang. Betapa anehnya membahasakan senang yang berbalut sedih, dan di saat bersamaan mengakui lara (yang jadi tidak sedih-sedih amat) karena bahagia.

Sunday, April 23, 2017

Rahasia 'Sihir' Kartini


LUPA, sudah berapa lama saya tidak membuka akun Path. Yang saya ingat, saat membukanya, perhatian sebagian besar teman-teman Path saya tertuju pada Kartini. Mungkin hari itu 22 April. Saya percaya niat mereka baik. Tapi ada beberapa hal yang jadi menggelikan. Apalagi pas saat lihat foto cowok berbatik dan menyampaikan Selamat Hari Kartini. Entah apa yang ada di benak mereka. Mungkin latah. Atau mungkin juga mereka sudah membaca catatan-catatan Kartini (dan terpesona). Di sini, saya ingin mengajukan beberapa nama perempuan Indonesia yang lain. Mereka punya kehebatan yang boleh diadu dengan Kartini. Ini versi saya lho yaa... jadi silahkan kalau tidak setuju. Hehehe...

Saturday, February 11, 2017

Islam Politik: Romantisme dan Represi



SETELAH Soeharto turun 1998, banyak partai politik (parpol) berbasis Islam terbentuk. Pasca euforia Pemilu 1999, perlahan selera publik pada parpol itu ikut memudar. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hanya dua kali masuk tiga besar yaitu di pemilu 1999 dan 2004. Yang kembali dan tetap berjaya adalah Golkar dan PDIP. Lalu dua pendatang baru: Partai Demokrat dan Gerindra. Ke mana Islam Politik?

Sunday, December 11, 2016

TIK vs Makar


MINGGU yang dingin. Entah karena di luar cuaca mendung atau karena saya yang sedikit meriang. Lelah dari Jakarta masih terbawa sampai Kendari. Jadinya suhu ruang pertemuan hotel bintang tiga ini terasa lebih menusuk. Dijadwalkan, saya dan teman-teman dari Teknik Informatika akan mendongeng pukul 10 pagi. Tapi molor sampai sejam. Lumayan, menunggu satu setengah jam bisa diisi dengan menyeruput teh panas. Tiba-tiba terpikir kalau apa yang akan kami dongengkan di panel Pemda ini bisa digunakan untuk melawan demonstrasi hingga makar.

Thursday, December 1, 2016

Wajah Muslim Indonesia

sumber: blog.act.id

SEJUJURNYA judul ini terlalu berat untuk dibebankan pada tulisan yang dapat habis dibaca dalam sekali duduk. Sejak aksi 4 November 2016 lalu yang melibatkan banyak umat Islam, lahir sejumlah label negatif. Apalagi dari media asing. Meski secara tidak langsung disebutkan, tetapi aksi tandingan yang diadakan setelah itu membangun wacana yang memposisikan umat Islam Indonesia itu anti-keberagaman, tidak bisa menerima pluralisme, bahkan yang paling seram, mereka merencanakan makar (untuk mendirikan negara Islam). Menolak NKRI dan anti-Pancasila.

Thursday, November 10, 2016

(Politik) Gelar Pahlawan


TANGGAL 9 November ini tokoh Nahdlatul Ulama Kyai Haji As'ad Syamsul Arifin mendapat gelar Pahlawan Nasional. Dugaan saya meleset. Sejak awal tahun saya memprediksi mantan presiden Soeharto dan Abdurrahman Wahid yang akan dapat gelar tersebut pada 2016. Variabel gonjang-ganjing politik seperti saat ini sama sekali tidak masuk hitungan saya. Karena sampai akhirnya tahun 2015 Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memastikan bahwa pengesahan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto dan Abdurrahman Wahid sudah disetujui oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan yang diketuai oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Menurut Menteri Khofifah, pengesahan kedua mantan presiden tersebut tinggal menunggu Keputusan Presiden (Detik, 10 Nov 2015).

Saturday, October 22, 2016

Melawan dengan Film


FILM yang based on true story itu, fiksi atau non-fiksi? Apa bedanya drama, sinetron, dan film? Kalau mau buat film dokumenter risetnya harus lama ya? Program apa yang digunakan untuk mengedit film? Itu beberapa pertanyaan yang diajukan peserta pelatihan Journalism on Campus IAIN Kendari. Syukur pertanyaan-pertanyaannya bisa saya jawab. Hanya ada satu yang tidak: Lahir tahun berapa? Hehehe… Toh tidak ada relevansinya dengan materi tentang film yang saya dongengkan. Lebih ke buat lucu-lucuan saja, kan?

Minggu, 16 Oktober. Pagi sekitar jam 10 saya sudah di lantai dua ruang perkuliahan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah. Untuk masuk ruang pelatihan, saya sukarela membuka sepatu. Maklum berkarpet hijau. "Seperti masjid, ya?!" kata saya bercanda. Ada tiga sesi borongan. Agak maruk juga sih karena semua sesi, saya yang isi. Mohon maaf kalau akhirnya ada yang pusing, sakit kepala, serta alami gangguan pendengaran dan penglihatan. Tapi gimana lagi?! The show must go on. Aseeek!

Sunday, October 2, 2016

Menulis? Buat apa?!


MEREKA ingin menulis tapi sibuk. Itu yang saya tangkap dari perbincangan dengan beberapa mantan mahasiswa. Mereka umumnya pekerja kantoran. Sudah pasti sibuk. Tapi rasanya sepadan dengan gaji yang mereka dapat. Bisa melebihi penghasilan saya yang 10 tahun lebih dulu bekerja daripada mereka. Trus, “Buat apa kalian menulis?’ Itu pertanyaan yang sempat saya ajukan. “Menulis tidak akan membuatmu kaya,” kata saya.

Ternyata bukan itu tujuannya. Mereka ingin berbagi. Dengan menulis, mereka bisa merasa lebih bermakna. Bahkan ada yang bermimpi untuk sekolah lagi. Tidak buruk sih, tapi buat apa? Menghabiskan uang saja. Itu jawaban politisnya. Ada alasan lain yang sebenarnya muncul di kepala saya waktu itu tapi tidak saya sampaikan. “Yaa.. kalau kalian sekolah lagi, saingan saya bertambah dong.” Hehehe....

Friday, July 8, 2016

Menjadi Makhluk Visual

aswan zanynu (c) 2016
MEDIA sosial seperti penyihir yang mantranya mengubah kita menjadi makhluk lain. Mungkin benar kata Innis dan McLuhan: Manusia terus menerus mengubah teknologi dan (ajaibnya) teknologi tersebut kemudian mengubah manusia. Sebelum ditemukan teknologi foto digital, mengabadikan satu momen atau wajah seseorang itu suatu 'kemewahan'. Sampai era 90an, setahun punya satu foto saja itu rasanya sudah luar biasa. Tidak cukup makan waktu dua dekade, manusia kemudian dimudahkan untuk memotret dengan kamera digital. Bukan itu saja, kini teknologi hybrid memadukan kamera dan smartphone. Piranti yang praktis untuk membuat, membagi dan menyebarluaskan foto-foto.

Selepas berpuasa, saya masih meragukan apakah saya dapat menjadi muslim yang bertakwa. Tetapi perlahan saya bertambah optimis akan menjadi makhluk visual. Tidak afdal rasanya kalau tidak ber-swafoto (selfie) atau berfoto ramai-ramai. Girang sih. Tapi dalam derajat tertentu ada saat di mana saya merasa kita begitu kecanduan kamera. Alat yang besarnya segenggaman tangan itu mengikis sakralnya beribadah. (Pernah lihat foto orang yang selfie di sekitar Ka'bah, kan?) Gadget jadi lebih penting dari percakapan yang justru dapat mengakrabkan. Padahal momen Hari Raya itu enaknya saat dinikmati. Sama seperti makanan yang tersaji, yaa.. nikmatnya kalau dicicipi.

Saya bersyukur selama dua hari lebaran disibukkan oleh percakapan dan makan (tanpa smartphone). Memang sayang sih karena tidak sempat memotret banyak momen. Tapi sungguh, itu bukan hal yang saya sesali. @aswan

Note:
Sebenaranya ini alasan saya saja. Dengan wajah yang tak sedap dipandang, apa untungnya memperbanyak foto? Hehehe…

Friday, April 29, 2016

Sains itu Fiksi?


ADA saat saya merasa batas antara sains dan fiksi itu begitu tipis. Selalu ada terselip fantasi di setiap penjelasan ilmiah. Misal, ilmuwan mana yang pernah bertemu dinosaurus dan ragam jenisnya? Bagaimana mereka bisa buat penggambaran sedetail itu? Bayangkan jika mereka tidak pernah bertemu kuda dan zebra. Dengan berbekal kerangka keduanya yang serupa, yang ditemukan saat ekskavasi, akankah para ilmuwan tersebut menggambarkan hewan tersebut dengan cara yang berbeda? Sekarang pun saya baru tahu kalau kata "cyberspace" (yang kemudian menjadi konsep ilmiah itu) diambil dari fiksi yg dipetik dari novel Neuromancer karya William Gibson (1984) ini. Hampir satu dekade sebelum dunia mengenal internet. Mungkin sains adalah imajinasi yang masuk akal. @aswan

Sunday, August 23, 2015

Gawai yang Abadi

GADGET (baca: gawai) bukan trend saat smartphone mulai hadir. Jaman dulu gawai sudah dikenal. Hanya bentuk dan fiturnya yang berbeda. Kakek ibu saya pernah mewariskan sebilah keris di tahun 1990an. Jujur, saya bingung. Ini buat apa? Di mata saya saat itu, keris adalah simbol kekerasan. Paling tidak, yaa.. dapat digunakan untuk membela diri. Tapi apa iya kemana-mana saya harus membawa keris? Butuh waktu 25 tahun buat otak saya yang bebal ini untuk menyadari bahwa saya semestinya menyimpan baik-baik keris itu tapi dengan alasan historis yang satu ini.

Di masa kakek atau kakek dari ibu saya, keris adalah serupa dengan smartphone yang saya bawa. Setiap pria dewasa harus memilikinya. Itu simbol atas status dan sekaligus dapat digunakan untuk kepentingan pada zamannya. Malah menurut saya, keris jauh lebih personal. Bentuk dan fiturnya dapat sesuai keinginan si pemilik. Berbeda dengan smartphone yang cenderung seragam. Saya tiba-tiba membayangkan bagaimana reaksi cucu saya kelak, atau mungkin cucu dari cucu saya. Bisa jadi smartphone saya saat ini dilihatnya sebagai simbol kebodohan kakek moyangnya. @aswan

Thursday, July 2, 2015

Imajinasi itu Asyik

SEORANG teman tiba-tiba mengeluhkan apa yang dia jalani. "Aku hidup dalam imajinasiku. Segalanya ingin aku lihat, ingin aku cocok-cocokkan dengan apa yang aku impikan." Begitu katanya. But let me say. Apa ada orang yang tidak hidup dalam imajinasinya? Kita semua hidup dalam imajinasi kita. Kita belajar, bekerja, melakukan aktivitas sehari-hari untuk mewujudkan imajinasi kita atas hidup yang ingin kita jalani. Manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh mimpi-mimpinya. Bedanya, ada yang sadar kalau apa yang ia jalani adalah bagian dari imajinasinya dan mempersoalkannya (seperti teman saya tadi). Ada pula yang sekedar menjalani hidup seperti yang mereka inginkan, yang mereka impikan tanpa mempersoalkannya. Asal jangan jadi yang ketiga, yang menolak menerima hidup jika itu tidak seperti yang mereka imajinasikan. Mereka ada dalam jebakan imajinasi yang mereka ciptakan sendiri.

Menurut teori Imajinasi saya, dua hal yang penting yang harus ada dalam sebuah jaring imajinasi yang aman, yang tak menjebak seperti tadi. Pertama, saya masih dapat membedakan mana cita, mana realita. Jangan mencampuradukkan kedua hal itu. Cita ada di dunia ideal yang saya bentuk sendiri. Realita ada di dunia nyata, di mana saya tidak sendiri. Ada campur tangan pihak lain di situ. Jadi saya harus berdamai dengan itu. Kedua, imajinasi itu penting karena itu yang membuat saya berusaha. Mendorong saya melakukan apa yang saya inginkan dengan senang hati. Bekerja dengan imajinasi seharusnya membuat saya bahagia. Bahagia karena di ujung jalan menanti impian yang saya perjuangkan. Kalau impian itu tak kunjung ada, setidak saya harus bahagia karena sudah melakukan apa yang memang ingin saya lakukan. Imajinasi seharusnya membuat saya bersyukur, akur dengan kenyataan. Asyik. @aswan

Tuesday, June 16, 2015

Menggugat Potret Dinosaurus

SIAPA yang pernah menyaksikan Dinosaurus dan kawan-kawannya hidup? Detail bentuk tubuh mereka. Cara mereka berperilaku. Tumbuh kembang mereka. Ilmuwan hanya menemukan kerangka Dinosaurus. Menyusun. Lalu direka ulang konstruksi tulang itu menjadi sebentuk makhluk yang sekarang kita saksikan terpampang dalam buku ilmu pengetahuan atau di film bergenre fiksi ilmiah. Sangat spekulatif. Bagaimana memverifikasi spekulasi itu? Hamat saya, ini tentang kesepakatan para ilmuan saja. Sepakat pada satu versi spekulasi yang paling masuk akal. Dari situlah spekulasi-spekulasi 'ilmiah' berikutnya dibangun oleh satu generasi ke generasi berikutnya. Baik dalam bentuk ilmiah hingga populer. Dengan kewenangan ilmiahnya, ilmuwan dapat mengemas spekulasi menjadi sebentuk kebenaran meski sangat spekulatif sifatnya. @aswan


Thursday, May 7, 2015

Mengapa (Kita) Senyum?

INDONESIA termasuk negara berpenduduk ramah. Begitu kata survey. Seramah itukah kita? Sebut saja begitu. Meski saya sendiri tidak mengetahui dengan pasti metode survey dan cara pengukuran indeks yang dilakukan untuk menakar tingkat keramahan sebuah bangsa. Jika ditanya satu per satu, setiap orang punya alasan untuk terseyum kepada orang lain. Tanda hormat. Simbol penerimaan. Ingin menunjukkan rasa senang, cinta, atau bahagia. Berpura-pura ramah. Basa-basi. Kode biar diperhatikan. Menutupi rasa canggung atau malu. Daftar alasan itu masih panjang. Yang pasti, dengan senyum kita ingin berbagi. Lalu mengapa harus senyum yang dibagi, bukan yang lain. Boleh jadi karena itulah 'harta' yang dapat dibagi. Saya kemudian membayangkan bagaimana hidup orang yang bahkan senyum pun tidak ia miliki. @aswan

Friday, May 1, 2015

Panggung Satahun Sekali

CERITA tentang buruh selalu ada setiap tanggal 1 Mei. Mereka berkumpul dan datang dari segala penjuru ke ibukota. Sebut saja Jakarta. Jika dirunut ke belakang, tradisi yang kemudian mendunia ini sudah ada sejak 1886. Tetapi bukan itu masalah. Saya melihat May Day yang biasa disebut sebagai Hari Buruh Internasional ini seperti 'panggung'. Buruh butuh itu. Tempat mereka datang, berkumpul, dan bernyanyi. Suara buruh hanya bertahan sampai besok, ketika koran mengabarkan tuntutan mereka. Setelah itu hilang ditelan kesibukan masing-masing. Kesibukan buruh. Kesibukan perusahaan. Kesibukan pemerintah. Kesibukan agenda media yang terus melompat-lompat. Senja 1 Mei seperti janji yang mengingatkan buruh untuk datang, bertamu, dan bernyanyi lagi. Mereka akan kembali nyayikan 'lagu' yang sama tahun depan. May Day itu ritual buruh, bukan tuntutan. @aswan