AKHIR Maret dan awal April kembali menjadi saat bagi saya untuk bisa berbagi dongeng tentang film. Hari Film Nasional jatuh tanggal 30 Maret. Senang bisa bicara film di rentang hari itu. Ada dua momen yang seru. Setidaknya bagi saya, entah dengan mereka yang mendengarkan ocehan saya. Atau gini deh, anggap saja mereka juga ikut merasakan keseruannya. Jadi saya tidak sok asyik sendiri. Hehehe.... Biar enak nih nulisnya. Deal yaa?! Yuk, lanjut!
Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts
Monday, April 2, 2018
Fajar Film di Bulan Film
AKHIR Maret dan awal April kembali menjadi saat bagi saya untuk bisa berbagi dongeng tentang film. Hari Film Nasional jatuh tanggal 30 Maret. Senang bisa bicara film di rentang hari itu. Ada dua momen yang seru. Setidaknya bagi saya, entah dengan mereka yang mendengarkan ocehan saya. Atau gini deh, anggap saja mereka juga ikut merasakan keseruannya. Jadi saya tidak sok asyik sendiri. Hehehe.... Biar enak nih nulisnya. Deal yaa?! Yuk, lanjut!
Monday, August 7, 2017
I'm Feeling Lucky
PAGI ini ada kejutan kecil. Saat terkoneksi dengan internet, aplikasi musik Spotify di laptop saya menampilkan "Discover Weekly", sebuah chart komposisi musik yang (katanya) khusus buat saya. Yakin?! Iya, yakinlah, lha nama saya disebut: Made for Aswan. Hehehe... Maaf kalau rasa dikejutkan ini terdengar norak. Mungkin karena saya merasa musik itu personal. Sangat personal. Jadi cepat melting begitu tahu ada yang bela-belain buat playlist untuk saya, apalagi mengklaim kalau itu spesial. Dan terdengar meyakinkan saat saxophonist Kim Waters membuka playlist dengan bawakan komposisi Love's Theme. Di satu sisi senang sih bisa nikmati gaya soul jazz, di sisi lain saya juga punya ketakutan tersendiri karena merasa dimata-matai oleh internet. Eh bukan saya saja ding, kita semua sedang dimata-matai oleh internet. Maaf yaa, pake ngajak. Tapi benar kok. Ceritanya begini:
Wednesday, July 19, 2017
Post-Truth: Kontestasi dan Horor*
*) Pendapat dua ahli dalam tulisan ini dikemukakan dalam konferensi internasional bertajuk “Communication Governance and Research: Post-Truth Era”, di Fisip Universitas Indonesia, Depok (11 Juli 2017). Untuk tidak mencampuradukkan antara pendapat mereka dan diskusi yang saya bangun, pendapat mereka diletakkan dalam paragraf yang terpisah dengan komentar saya.
KAMUS Oxford telah memberikan gelar “the word of 2016” pada frase post-truth karena dipandang cukup mewakili apa yang telah terjadi sepanjang tahun 2016. “Post-truth” adalah kata sifat yang berarti keadaan di mana daya tarik emosional dan keyakinan personal lebih mempengaruhi pembentukan opini publik daripada fakta-fakta obyektif. Berdasarkan keterangan editornya, jumlah penggunaan istilah tersebut di tahun 2016 meningkat 2000 persen bila dibandingkan 2015. Sebagian besar penggunaan istilah post-truth merujuk pada dua momen politik paling berpengaruh di tahun 2016: keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit) dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.
Sunday, June 25, 2017
Selamat (Kartu) Lebaran
YANG tumbuh dewasa di era 90an mungkin akan kangen dengan kartu lebaran. Setidaknya ingat tradisi berbagi kartu lebaran saat jelang Hari Raya. Orang yang paling sibuk se-Indonesia yaa pak Pos. Tidak jarang nanti setelah hari H ada beberapa kartu yang baru sampai ke tangan. But it's ok, selembar surat itu tetap punya nilai personal. Bahkan jika menoleh ke belakang, kartu lebaran bisa bernuansa politis dan bahkan bisnis.
Friday, June 23, 2017
Umur Oh Umur
MENDADAK suara beduk sebelum adzan Jumat hari ini terasa begitu pilu. Seperti ucapan "Selamat Jalan Ramadhan". Saya sendiri bingung dengan apa yang saya rasa. Di satu sisi, bahagia karena sebentar lagi lebaran. Tapi di sisi lain, saya malah merasa sedih bukan kepayang. Betapa anehnya membahasakan senang yang berbalut sedih, dan di saat bersamaan mengakui lara (yang jadi tidak sedih-sedih amat) karena bahagia.
Saturday, May 13, 2017
Dad Manual Book
TIAP orang punya tanggal yang jadi penanda hidup. Hari ini (13 Mei) adalah tanggal yang jadi pengingat saat saya pertama kali berperan sebagai ayah (terhitung sejak 2001). Memang tidak mudah. Saat Anda menjadi ayah, tidak ada manual book untuk itu. Untuk hal yang punya buku panduan saja, kita sering kerepotan menanganinya. Apalagi yang tidak punya buku panduan sama sekali. Saya hanya bisa belajar jadi ayah dari mengingat-ingat kembali bagaimana ayah saya berperan sebagai ayah.
Ada beberapa hal yang tidak saya lakukan, lakukan dengan modifikasi, atau benar-benar meniru apa yang dilakukan ayah (dulu kepada saya). Dia bukan ayah yang sempuna, sama seperti saya. Tapi hanya itu yang tersedia untuk saya pelajari. Hehehe... Yang pasti, belajar jadi ayah secara otodidak itu pun super ribet. Pertama, karena yang Anda hadapi adalah bagian dari diri Anda sendiri. Meski begitu, uniknya, dia bukan Anda. Kedua, ketika Anda ingin belajar dari orang lain, belum tentu berhasil. Alasannya sederhana: karena anak Anda tidak pasti sama dengan anak mereka. @aswan
Monday, March 27, 2017
Heaven and Anti-mainstream Story
FINALLY, they choose me. Such like dream come true. Honestly, I was a big surprise. I know myself. I know what they ask me. I'm sure can't make them satisfy. As I told before (read: Ten Days to Kill), it's about my poor English. How do I can give my best if there is a big wall that I can pass trough? Sorry, I mean it's hard to pass trough. Imagine that this work just needs my mother tongue. It will be easier, isn't it? But anyway, how can we grow more and more if life just offers us an easy stuff to play. Maybe God must put the chosen one in a more difficult situation to push them higher. Even I realize that in some situation, sometimes life push us in a hard position that can losing our mind.
Back to what we call "our dream", what do you think about destiny? What we get is what we ought to get. One time, a secretary of the project told me that no one from all candidates that apply for my job position does qualify. See?! How come they eventually choose me? Life has just shown me the serious funny logic. What you calculate (with your genius brain) doesn't mean will give you the same result in the end, in our unpredictable life. God has shown that there is the anti-mainstream story to be played. He likes going to say, "Put off your logic to get more amazing things that you can imagine before". Yea.. you and I have two tools: logic and faith. Sadly, the first one still becomes my favorite instrument. That's why sometimes I feel heaven laugh at me. @aswan
Thursday, March 2, 2017
Ten Days to Kill
IT WAS AN AWKWARD INTERVIEW. My first experience in a formal situation using English as a language of conversation. For English in daily life, it's ok if we make some mistakes: the grammar of spelling the words. We can build a mutual understanding. But not in this interview. Every single word must be correct. There were three interviewers sitting on me. I don't know why it's so hard to find a good or proper diction. They are Indonesian. "Came on, why so serious.. Let's talk in Bahasa Indonesia. Ups... No, I'm just kidding. You play the rule." [wink]
Not sure, although I wish that they will choose me. But if I was them, exactly no doubt that talking and writing in English are a must for a candidate that will join in my team. It's a basic skill. Oh God, why life isn't simple as I want to be. Have a good job and honorable salary. Need ten days to know am I the one who they want or not. Need ten days to ask myself am I good enough for all my dream. And maybe need ten days to make a wasted wish. Sometimes life just like a roller coaster that we can guess how it will be ended. We just enjoy the circle and sensation because that what we look for. If you don't agree, presume that I'm just kidding. [wink] @aswan
*note:
gimana-gimana, blepotan kan Inggrisku? 😬
Friday, February 3, 2017
Ke Bintang, Kakek Bertandang
TAHUN Baru Cina selalu mengingatkan saya pada Kakek. Bukan karena dia merayakan. Bukan karena dia punya ikatan keluarga dengan yang merayakan. Juga bukan karena dia punya banyak teman yang merayakan (terus saya kebagian angpao gitu?!). Satu-satunya alasan yang membuat saya selalu mengingatnya adalah karena Tahun Baru Cina punya hubungan dengan laut. Saya dibesarkan di pulau, jadi laut adalah teman kami. Setidaknya, laut berpengaruh dalam keseharian kami.
Wednesday, December 28, 2016
(Fun with) Firecracker
We live in a culture where we’re bombarded with so much noise and so much insecurity.
–Lisa Ling
MAYBE just in my town. You can hear firecracker even in every celebration. Any kind celebration. Town anniversary. On our Independent Day. Eid ul-Fitr and Eid ul-Adha festival. And of course when we welcome a new year. Muslim is majority in this town but you still can hear firecracker on Christmas night. I don’t know who they are, what they think when make some noise almost all day and night. But I’m sure, they hate silence. In China tradition, firecracker are used to dissipate the evil spirit. In my town, it has a 'new' function: as a sign that we are in a happy mode. Although I’m afraid everyone enjoy that noises. @aswan
Sunday, December 11, 2016
TIK vs Makar
MINGGU yang dingin. Entah karena di luar cuaca mendung atau karena saya yang sedikit meriang. Lelah dari Jakarta masih terbawa sampai Kendari. Jadinya suhu ruang pertemuan hotel bintang tiga ini terasa lebih menusuk. Dijadwalkan, saya dan teman-teman dari Teknik Informatika akan mendongeng pukul 10 pagi. Tapi molor sampai sejam. Lumayan, menunggu satu setengah jam bisa diisi dengan menyeruput teh panas. Tiba-tiba terpikir kalau apa yang akan kami dongengkan di panel Pemda ini bisa digunakan untuk melawan demonstrasi hingga makar.
Saturday, October 22, 2016
Melawan dengan Film
FILM yang based on true story itu, fiksi atau non-fiksi? Apa bedanya drama, sinetron, dan film? Kalau mau buat film dokumenter risetnya harus lama ya? Program apa yang digunakan untuk mengedit film? Itu beberapa pertanyaan yang diajukan peserta pelatihan Journalism on Campus IAIN Kendari. Syukur pertanyaan-pertanyaannya bisa saya jawab. Hanya ada satu yang tidak: Lahir tahun berapa? Hehehe… Toh tidak ada relevansinya dengan materi tentang film yang saya dongengkan. Lebih ke buat lucu-lucuan saja, kan?
Minggu, 16 Oktober. Pagi sekitar jam 10 saya sudah di lantai dua ruang perkuliahan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah. Untuk masuk ruang pelatihan, saya sukarela membuka sepatu. Maklum berkarpet hijau. "Seperti masjid, ya?!" kata saya bercanda. Ada tiga sesi borongan. Agak maruk juga sih karena semua sesi, saya yang isi. Mohon maaf kalau akhirnya ada yang pusing, sakit kepala, serta alami gangguan pendengaran dan penglihatan. Tapi gimana lagi?! The show must go on. Aseeek!
Monday, October 17, 2016
Gelang (Dupa) Oranye
![]() |
| Bangkok, Oktober 2016 |
SEBUAH foto dengan bingkai yang besarnya seukuran billboard berdiri di tengah Universitas Kesetsart, Bangkok. Itu kali pertama saya melihat langsung gambar Bhumibol Adulyadej lengkap dengan suasana di sekitarnya. Di depan potret besar, ada sesajian, bunga, dan hio (tangkai dupa). Saya sempat meminta seorang teman untuk mengambil foto saya berlatar gambar tadi. Namun urung. Beberapa orang yang lewat selalu berdoa di depannya. Rasanya tidak santun untuk lucu-lucuan membelakangi potret diri seseorang yang dihormati. Sebagai pendatang, saya tidak punya ikatan emosional dengan raja. Tapi bagaimana orang Thailand mengekspresikan kecintaan mereka?
Monday, July 18, 2016
Pertama Pulang Sekolah
"BERAPA lama kita sampai ke luar angkasa?" Itu pertanyaan yang diajukan si bungsu, Rifqah (11 thn). Entah dia serius atau tidak bertanyanya. "Yaa tergantung kamu mau ke mana? Bulan? Planet Mars? Atau ke mana?" Belum lagi selesai saya menjelaskan, dia langsung meneruskan, "Untuk apa yaa saya ke luar angkasa? Di sana saya mau buat apa?!"
Friday, July 15, 2016
Reuni atau Apalah
TANPA sengaja saya menemukan meme ini di instagram. Satu atau dua hari setelah bertemu dengan teman-teman masa kuliah (S1) dulu. Pertemuan kami rasanya seru. Meme ini yang kembali mengusik kesadaran saya tentang betapa pentingnya setiap pertemuan. Khususnya dengan orang-orang baik yang pernah membuat hidup menjadi pantas dan bermakna untuk dilalui. Karena jika orang yang kita temui adalah orang yang buruk, saya selalu berdoa agar itu jadi pertemuan yang terakhir. Doa semua orang pun rasanya seperti itu, bukan?!
Friday, July 8, 2016
Menjadi Makhluk Visual
![]() |
| aswan zanynu (c) 2016 |
Selepas berpuasa, saya masih meragukan apakah saya dapat menjadi muslim yang bertakwa. Tetapi perlahan saya bertambah optimis akan menjadi makhluk visual. Tidak afdal rasanya kalau tidak ber-swafoto (selfie) atau berfoto ramai-ramai. Girang sih. Tapi dalam derajat tertentu ada saat di mana saya merasa kita begitu kecanduan kamera. Alat yang besarnya segenggaman tangan itu mengikis sakralnya beribadah. (Pernah lihat foto orang yang selfie di sekitar Ka'bah, kan?) Gadget jadi lebih penting dari percakapan yang justru dapat mengakrabkan. Padahal momen Hari Raya itu enaknya saat dinikmati. Sama seperti makanan yang tersaji, yaa.. nikmatnya kalau dicicipi.
Saya bersyukur selama dua hari lebaran disibukkan oleh percakapan dan makan (tanpa smartphone). Memang sayang sih karena tidak sempat memotret banyak momen. Tapi sungguh, itu bukan hal yang saya sesali. @aswan
Note:
Sebenaranya ini alasan saya saja. Dengan wajah yang tak sedap dipandang, apa untungnya memperbanyak foto? Hehehe…
Monday, May 23, 2016
Yang Mundur Sebulan
![]() |
| *thanks to Amia Luthfia for taking the pictures |
UJIAN proposal disertasi saya, sedianya dilakukan akhir April 2016. Entah bagaimana tiba-tiba harus dijadwalkan kembali nanti pada akhir Mei. Stress menunggu sebulan itu tidak asyik. Karena sebelum April pun saya sudah melewati masa-masa menegangkan yang sama tidak enaknya. Boleh dibilang berpuncak pada akhir Maret. Jika ditarik ke belakang, butuh satu setengah tahun waktu untuk mengkonstruksi dan merekonstruksi ide, teori, dan metodologi. Berkali-kali membongkar pasang pemikiran dari nol. Meski melelahkan, memulai dari halaman satu itu lebih menantang daripada mengutak-atik puluhan halaman proposal yang sudah jadi. Sok jago banget ya?!
Friday, January 8, 2016
Teori Konspirasi Auditif
AWAL bulan Januari ini, saya menyempatkan diri ke Makassar. Anak dari kakak sepupu yang akan nikah. Sungguh tidak ada hubungannya dengan teori konspirasi sebenarnya. Tetapi entah mengapa, secara auditif, saya percaya teori konspirasi itu ada. Semacam ada kekuatan di luar kendali yang mengatur audio yang terdengar sepanjang kunjugan saya ke Makassar. Ibarat film, adegan demi adegan yang saya perankan selalu berlatar lagu atau musik yang senada dengan apa yang ada dalam kepala saya. Seperti playlist yang secara otomatis dapat membaca dan menyediakan audio yang pas suasana hati.
Awalnya saya berpikir itu kebetulan saja. Ketika tiba di Bandara Sultan Hasanuddin bertemu dengan teman yang hendak ke Kualalumpur untuk urusan studi doktoral. Alunan musik tradisional Bugis Makassar terdengar merdu di sana. Instrumen yang sama juga saya dengarkan di rumah para mempelain. Tapi saya pikir itu wajah karena by design. Sesuatu yang dengan sengaja diperuntukkan bagi para pengunjung agar merasakan atmosfir budaya Sulawesi Selatan. Ini menjadi berbeda saat saya sudah berada di mobil dan di pusat perbelanjaan.
Di mobil, stasiun radio FM yang saya pilih memutar lagu yang selalu pas dengan suasana hati saya saat menapak tilas beberapa sudut kota Makassar. Kota ini yang menjadi tempat pembentukan kemandirian dan kematangan keahlian dan intelektual saya selama lebih sepuluh tahun. "Mungkin karena kamu memilih stasiun radio yang memutar lagu di era 90an?!" kata suara yang menolak teori konspirasi yang saya sebut tadi. Tapi bagimana dengan pusat perbelanjaan. Mereka tahu dari mana saya sedang memikirkan atau berada dalam suasana hati tertentu? Semesta tampaknya memiliki caranya sendiri untuk tetap mengingatkan bahwa meski sendiri, saya adalah bagian dari jagat. Kita adalah bagian dari satu rencana besar, grand design yang digagas dan dijalankan sang Waktu. @aswan
Awalnya saya berpikir itu kebetulan saja. Ketika tiba di Bandara Sultan Hasanuddin bertemu dengan teman yang hendak ke Kualalumpur untuk urusan studi doktoral. Alunan musik tradisional Bugis Makassar terdengar merdu di sana. Instrumen yang sama juga saya dengarkan di rumah para mempelain. Tapi saya pikir itu wajah karena by design. Sesuatu yang dengan sengaja diperuntukkan bagi para pengunjung agar merasakan atmosfir budaya Sulawesi Selatan. Ini menjadi berbeda saat saya sudah berada di mobil dan di pusat perbelanjaan.
Di mobil, stasiun radio FM yang saya pilih memutar lagu yang selalu pas dengan suasana hati saya saat menapak tilas beberapa sudut kota Makassar. Kota ini yang menjadi tempat pembentukan kemandirian dan kematangan keahlian dan intelektual saya selama lebih sepuluh tahun. "Mungkin karena kamu memilih stasiun radio yang memutar lagu di era 90an?!" kata suara yang menolak teori konspirasi yang saya sebut tadi. Tapi bagimana dengan pusat perbelanjaan. Mereka tahu dari mana saya sedang memikirkan atau berada dalam suasana hati tertentu? Semesta tampaknya memiliki caranya sendiri untuk tetap mengingatkan bahwa meski sendiri, saya adalah bagian dari jagat. Kita adalah bagian dari satu rencana besar, grand design yang digagas dan dijalankan sang Waktu. @aswan
Friday, January 1, 2016
Jeda Jadi Tua
PERGANTIAN tahun 2015-2016 kami sekeluarga menikmatinya di Baubau. Kota di mana saya lahir. Kota dengan pantai yang indah. Gunung dengan lembah yang landai. Sungai dengan air yang bening. Seperti paket komplit. Dan andai reinkarnasi itu ada, saya kepingin dilahirkan di kota ini lagi. Repetitif. Hidup yang akan membosankan untuk dijalani kembali, pastinya?! Hmmm...tidak juga sih, karena ada beberapa hal dari hidup saya yang butuh modifikasi. Salah satunya: Masih kepingin untuk jadi anak yang lebih baik.
Oh ya, yang asyik dari kota ini adalah saya dapat memilih untuk sejenak berhenti menjadi orang (yang) tua. Mendengarkan beberapa cerita dari ayah di ruang tengah yang dituturkan seperti dongeng. Menyimak sambil menyeruput teh panas. Atau mengantar dan berjalan bersisian dengan ibu di pasar tradisional. Benar kata Patrick: Apa enaknya jadi orang dewasa? Pantas SpongeBob sering bilang: Kau jenius Patrick! @aswan
Oh ya, yang asyik dari kota ini adalah saya dapat memilih untuk sejenak berhenti menjadi orang (yang) tua. Mendengarkan beberapa cerita dari ayah di ruang tengah yang dituturkan seperti dongeng. Menyimak sambil menyeruput teh panas. Atau mengantar dan berjalan bersisian dengan ibu di pasar tradisional. Benar kata Patrick: Apa enaknya jadi orang dewasa? Pantas SpongeBob sering bilang: Kau jenius Patrick! @aswan
Wednesday, September 23, 2015
Horor Malam Lebaran
SIANG saat berjalan pulang dari Perpustakaan UI Depok saya dapat kabar kalau si Sulung alami cedera saat main basket di sekolah (23 Sep). Tempurung lutut kirinya bergeser dan langsung dibawa ke RS Bhayangkara Kendari. Malam harus jalani operasi. Idul Adha besok (24 Sep). Malam lebaran berubah jadi horor. Apalagi waktu menunggu kabar si Sulung siuman saat keluar dari kamar operasi. Menit demi menit rasanya merangkak seperti kura-kura. Bingung doa apa yang harus dipanjatkan. Blank! Ketegangan sedikit reda saat pas tengah malam dengar si Sulung sudah siuman. Wuff... Alhamdulillah.
Si Sulung rupanya punya basis fans. Waktu ke RS dia diantar kawan-kawannya. Ada dua angkot dan beberapa motor yang mengawalnya. Gelombang kedua yang datang justru teman-teman perempuannya. Ada yang mengaku sebagai pacar pertama, kedua, ketiga, entah sampai ke berapa. Sampai ada satu dari mereka yang bertanya, "Sakit mana, lututmu yang cedera atau perasaanmu kalau aku putusin?!" Mereka masih bisa menemuan sisi lain dari sebuah horor (operasi) yang saya rasakan meneror dari jauh. Dan saat si Sulung pulang sudah diizinkan pulang ke rumah pada petang hari (24 Sep), ada dua kelompok pembesuk juga yang datang. Mereka bertanya, bagaimana rasanya saat lututnya dioperasi. Si Sulung menjawab, "Ngilu-ngilu manja". See?! Anak siapa yang suka iseng ini. @aswan
Si Sulung rupanya punya basis fans. Waktu ke RS dia diantar kawan-kawannya. Ada dua angkot dan beberapa motor yang mengawalnya. Gelombang kedua yang datang justru teman-teman perempuannya. Ada yang mengaku sebagai pacar pertama, kedua, ketiga, entah sampai ke berapa. Sampai ada satu dari mereka yang bertanya, "Sakit mana, lututmu yang cedera atau perasaanmu kalau aku putusin?!" Mereka masih bisa menemuan sisi lain dari sebuah horor (operasi) yang saya rasakan meneror dari jauh. Dan saat si Sulung pulang sudah diizinkan pulang ke rumah pada petang hari (24 Sep), ada dua kelompok pembesuk juga yang datang. Mereka bertanya, bagaimana rasanya saat lututnya dioperasi. Si Sulung menjawab, "Ngilu-ngilu manja". See?! Anak siapa yang suka iseng ini. @aswan
Subscribe to:
Posts (Atom)















