Tuesday, August 23, 2016

Sex, Lies & Cigarettes



TERLEPAS dari rame-rame soal kenaikan cukai rokok (orang jamak menyebutnya "harga rokok), saya jadi ingat kalau tahun 2010 lalu video dokumenter ini menjadi viral di internet. Konteksnya ttg rokok dan pasar. Indonesia adalah surga bagi bisnis rokok. Kalau tdk salah, dari sekian orang terkaya di Indonesia, tiga diantaranya adalah pengusaha rokok. Sekedar membandingkan, di New York sebungkus rokok harganya bisa capai $12.

Video hasil reportase Christof Putzel ini tahun 2012 memenangkan "Carl Spielvogel Award" utk kategori Best International Business Reporting. Di tahun yg sama jg menangkan "Prism Award" utk kategori Best Documentary, News Magazine-Substance Use. Saat dokumenter ini dibuat, Christof Putzel masih menjadi koresponden Vanguard utk Current TV. Skrg dia bekerja sbg koresponden di Al Jazeera Amerika. @aswan

Tuesday, August 16, 2016

Kretek Sang Diplomat



JELANG kemerdekaan, Agus Salim masuk dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) yang bersidang sejak akhir Mei 1945. Bersama delapan orang lainnya antara lain Soekarno, Hatta, dan Wachid Hasjim (ayah Gus Dur) mereka merumuskan Piagam Jakarta yang kemudian dikenal dengan nama Pancasila dan tertera pada Pembukaan UUD 1945. Dia adalah satu dari beberapa orang yang sepakat untuk tidak memasukkan kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Alasannya, ada atau tidak kalimat itu, umat Islam wajib menjalankan syariatnya. Pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI dibubarkan karena dianggap telah dapat menyelesaikan tugasnya menyusun rancangan Undang-Undang Dasar bagi negara Indonesia Merdeka. Anehnya, dia tidak termasuk dalam nama-nama anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang menindaklanjuti kerja BPUPKI.

Grand Old Man



AGUS Salim tidak bisa selincah Soekarno, Hatta, Sjahrir dan kawan-kawan seangkatan mereka. Saat Indonesia merdeka, Agus Salim sudah memasuki usia 61 tahun. Dia lahir di Kota Gadang, Sumatera Barat 8 Oktober 1884. Usianya hampir 20 tahun lebih tua dari nama-nama tadi. Tidak heran dia dijuluki “The Grand Old Man” oleh Soekarno. Agus Salim menguasai 9 bahasa asing (ada pula yang menyebut 11), diantaranya Belanda, Inggris, Prancis, Arab, Jerman, dan Turki. Dia adalah politisi Indonesia yang paling bagus bahasanya (selain Hatta dan Mohammad Yamin).

Sebelum Indonesia merdeka, Agus Salim aktif di Sarekat Islam (SI). Ia begitu dekat dengan pendiri SI, HOS Tjokroaminoto. Meski dekat, bukan berarti ia tidak pernah mengritik Tjokroaminoto. Satu saat ia menyampaikan ketidaksukaannya pada Tjokroaminoto yang membiarkan cara orang-orang ‘mendewakannya’. Bahkan ada yang merunduk ke tanah dan mencium kakinya. Bukannya marah, Tjokroaminoto malah menerima Agus Salim sebagai orang kepercayaannya. Tjokroaminoto dan Agus Salim kemudian dikenal sebagai dwitunggal dalam SI.

Friday, July 22, 2016

CIA Indonesia Turki


SEANDAINYA ditulis tahun 2018 atau 2020, bisa jadi kudeta yang gagal di Turki pada Juli 2016 menjadi bagian ulasan dari buku ini. Dari judulnya, sudah terbaca kalau Weiner memaparkan gaya amatiran operasi CIA di berbagai negara (termasuk Indonesia). Ia memetakan kegagalan CIA dalam kurun waktu lebih dari 60 tahun dari masa president Truman (1945) sampai Bill Clinton (2007). Meski berisi 'berita buruk', buku ini berhasil raih penghargaan Pulitzer.

Khusus tentang Indonesia, terungkap bahwa CIA sebenarnya sejak 1958 berencana menggulingkan Soekarno. Mulai dari cara yang paling halus seperti membuat film porno yang pemerannya dipilih mirip Bung Karno (ada sumber yang menyebut dengan menggunakan topeng mirip wajah Soekarno), hingga yang paling vulgar seperti memasok senjata untuk pasukan PRRI/Permesta. Tidak terkecuali juga mengirim sejumlah agen-agen lapangan. Satu di antaranya yang bernasib sial yaitu Allen Pope: pesawatnya berhasil ditembak jatuh oleh TNI. Ditawan, lalu jadi modal negosiasi diplomatik Indonesia dan AS.

Wednesday, July 20, 2016

Untuk Hari Jadi

ADA tiga hal yang membuat saya suka puisi ini. Pertama, analogi kayu yang jadi pedati adalah gambaran manusia yang awalnya disusun oleh hal yang sederhana seumpama kayu untuk kemudian jadi sesuatu yang bermakna seperti pedati. Lalu pada akhirnya setiap manusia akan rindu kembali ke asalnya seperti pedati yang menjadi kayu. Kedua, puisi ini ditulis panjang menyerupai kalimat tapi tanpa tanda baca titik atau koma. Ketiga, saya tidak menyangka kalau setelah tujuh tahun kemudian, sang penyair Alois A Nugroro adalah guru besar yang jadi dosen saya di program doktoral Univ Indonesia. @aswanpov

Monday, July 18, 2016

Pertama Pulang Sekolah


"BERAPA lama kita sampai ke luar angkasa?" Itu pertanyaan yang diajukan si bungsu, Rifqah (11 thn). Entah dia serius atau tidak bertanyanya. "Yaa tergantung kamu mau ke mana? Bulan? Planet Mars? Atau ke mana?" Belum lagi selesai saya menjelaskan, dia langsung meneruskan, "Untuk apa yaa saya ke luar angkasa? Di sana saya mau buat apa?!"

Friday, July 15, 2016

Reuni atau Apalah


TANPA sengaja saya menemukan meme ini di instagram. Satu atau dua hari setelah bertemu dengan teman-teman masa kuliah (S1) dulu. Pertemuan kami rasanya seru. Meme ini yang kembali mengusik kesadaran saya tentang betapa pentingnya setiap pertemuan. Khususnya dengan orang-orang baik yang pernah membuat hidup menjadi pantas dan bermakna untuk dilalui. Karena jika orang yang kita temui adalah orang yang buruk, saya selalu berdoa agar itu jadi pertemuan yang terakhir. Doa semua orang pun rasanya seperti itu, bukan?!