Thursday, December 31, 2015

Senja Akhir 2015

(c) aswan  zanynu

SENJA itu perpisahan. Saya tidak terlalu suka menatap senja berlama-lama. Dia seperti melankoli yang bergerak perlahan dan memuncak justru ketika berada di titik terendahnya: saat matahari telah terbenam. Entah mengapa senja sore itu jadi indah. Mungkin karena warna ungunya yang tidak lazim. Setelah memotret anak-anak dan ibunya, saya meminta mereka bergeser. Membuka jalan untuk EOS-650D mengambil gambar bangunan dan suasana Pantai Kamali berpayung langit senja. Saat itu kami baru tiba dari perjalanan laut melintasi Selat Buton (dari Kendari). Gambar ini diambil dari ujung Pelabuhan Murhum Baubau. @aswanpov


Tuesday, December 29, 2015

Percakapan di Bangku

SUARA perempuan di seberangnya terdengar lirih, "Mengapa kau tak ingin kita menikah?" Dengan nada yang dibuat setenang mungkin, lelaki itu mulai menjawab. "Dari awal aku menyayangimu dengan tulus. Tidak peduli dengan siapa kamu pernah dekat bahkan berbagi hidup. Tetap tidak ada bedanya bagiku."

"Lalu masalahnya di mana? Kamu tidak ingin berkomitmen? Fine. Aku tidak membutuhkan itu. Menikah saja sudah cukup bagiku," katanya. Lelaki itu menghela nafas. "Saat menikah, rasa sayang turun menjadi cinta. Cinta adalah kasih yang bersyarat karena nikah menitipkan peran. Peran mewajibkan hak dan kewajiban: seperti halnya cinta."

"Bagaimana kalau aku tak butuh peran itu? Menikah ya menikah. Kau tidak harus berperilaku layaknya suami. Aku mencari nafkah sendiri. Aku dapat hidup mandiri. Aku pun tidak menuntut anak darimu. Apa itu semua masih belum cukup?!" Tuut... Tuuut... Tuuuut... Tuuuuut... Telepon terputus.

Mungkinkah dalam pernikahan peran-peran itu dapat dihapuskan? Kalau dapat diabaikan, masih layakkah itu disebut pernikahan? Bagaimana agar cinta yang menuntut imbal balik, dapat bermetamorfosis kembali menjadi sayang yang tak bersyarat? Dalam bingung, banyak tanya yang berputar-putar kepalanya. Ada suara yang berbisik, "Why don't you try?" Lelaki itu tersenyum, "Nikah kok pake coba-coba!" Suara tadi menyambar, "Bukankah semua hal dalam hidupmu diawali dengan mencoba?!"

Lelaki itu diam. Duduk di bangku yang menghadap laut. Menghirup hening. Dari jauh lampu kapal terlihat berkedip seperti berlomba dengan bintang yang menggantung di atasnya. Ia membiarkan angin malam yang dingin, mendekap. Menghentikan debat dengan diriya sendiri karena dia cuma ingin menyayangi kekasihnya lebih lama. Tanpa syarat. @aswan

Thursday, November 26, 2015

Prepare for Storytelling

Rifqah (c) aswan zanynu  

SEKETIKA dia membalik saat saya memanggil. Dan klik, satu bidikan tepat di wajahnya. Saya tidak ingat lagi bagaimana pengaturan flash EOS-650D. Yang pasti saya mencuri momen ini di sela-sela kerepotannya mempersiapkan diri untuk mendongeng pada Anugerah Kihajar 2015 Tingkat Nasional di Hotel Santika Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Wajah spontan rasanya adalah salah satu keindahan orisinal yang pernah ada. @aswanpov

NB:
Oh ya, di lomba ini Rifqah mewakili sekolahnya. Alhamdulillah dapat peringkat kelima di tingkat Sekolah Dasar Se-Indonesia.


Sunday, October 25, 2015

Doa Itu Egois


SAMBIL mengikat tali sepatunya, lelaki itu berkata: "Kalau itu adalah sebuah pinta yang rahasia, kamu tidak perlu menceritakannya kepadaku. Cukup kamu dan Tuhan saja yang tahu."
   "Aku kepingin cerita, tapi rasanya permohonanku begitu egois."
   Tiba-tiba lelaki di sisinya tertawa terbahak-bahak.
   "Kenapa?!" Perempuan itu membelalak, "Apa yang lucu?!"
   Menunduk dan menutup tawa dengan sebelah tangannya. Lelaki tadi seperti terseyum. "Tolong sebutkan apa ada doa yang tidak egois? Permohonan yang kita sampaikan pada Tuhan itu semuanya egois. Full of our interest. Kalau bukan egois, namanya apa coba?!"
   "Even if kita mendoakan orang lain?" perempuan itu melirik dengan mengangkat kedua alisnya yang hitam.
   "Iya. Karena kamu berkepentingan agar orang yang kamu doakan itu memperoleh apa yang kamu inginkan untuk mereka peroleh."
   "Hmmm... iya sih."
   Tali sepatunya telah terikat kembali dengan rapi. Di tangga masjid mereka masih duduk bersisian. Melihat jemaah yang keluar satu per satu dari masjid, lelaki itu melanjutkan: "Mereka semua baru saja memanjatkan doa-doa yang egois. Dan itu tidak masalah bagi Tuhan selama mereka tidak memaksa Tuhan untuk mengabulkan semuanya."
   Sekarang perempuan itu yang tersenyum, "Kamu tahu dari mana Tuhan tidak senang dipaksa?!" @aswan #fiksiku

Monday, October 5, 2015

1962 Volkswagen Classic

(c) aswan zanynu

PERNAH tidak Anda mendapatkan sesuatu yang begitu mirip, malah lebih bagus dari yang pernah Anda bayangkan? Itu yang terjadi pada Volkswagen (VW) ini. Sudah lama saya merindukan model mobil combo. Teman yang banyak berjasa dalam 'penemuan' mobil ini menyebutnya "combo". Saya sendiri tidak terlalu tahu dengan nama itu. Mungkin tepatnya: tidak mau tahu. Hehehe.... Toh apapun namanya, yaa yang itulah yang saya maksud. Bentuknya yang klasik selalu mengingatkan saya pada masa kanak-kanak di era 70-an akhir. Gambar ini saya abadikan dengan kamera Lumia 535. @aswanpov


Monday, September 28, 2015

Berteman dengan Tuhan

TANPA saya sadari selama ini saya menganggap Tuhan itu seperti teman sendiri. Ketika waktu shalat tiba, saya minta Dia menunggu sampai saya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tanggung untuk dihentikan ketika kumandang adzan. Hanya teman (sok) akrab yang berani meminta temannya menunggu, bukan?Pernah sih saya memenuhi panggilan-Nya di awal waktu, tapi biasanya karena dua alasan. Satu, biar tidak mengganggu agenda lain yang harus tepat waktu seperti jadwal take off pesawat. Atau dua, biar perbincangan kami cepat selesai karena ada kerjaan lain yang harus saya lakukan, misalnya tidur.

Saya tahu Dia punya segalanya, makanya kepada-Nya saya meminta. Tapi sekali lagi dengan lagak layaknya seorang teman. Merasa setara dan berani kecewa saat permintaan saya tidak diberikan. Sesekali kesal. Dan dalam hubungan pertemanan unik ini, saya lebih sering ingin mendominasi. Lebih sering ingin didengarkan. Mungkin karena itu saya sulit memahami apa yang Dia inginkan. Atau tepatnya tidak mau membuka diri untuk itu. Entahlah, di saat-saat tertentu komunikasi kami rasanya buruk sekali. Kami jalan beriringan tapi tidak saling menyapa. Meski selalu bersama, saya lebih tertarik pada apa saja selain Dia. Hmmm… teman macam apa saya ini? Itu kalau kami berteman yaa.. bagaimana jika tidak?! @aswan


Wednesday, September 23, 2015

Horor Malam Lebaran

SIANG saat berjalan pulang dari Perpustakaan UI Depok saya dapat kabar kalau si Sulung alami cedera saat main basket di sekolah (23 Sep). Tempurung lutut kirinya bergeser dan langsung dibawa ke RS Bhayangkara Kendari. Malam harus jalani operasi. Idul Adha besok (24 Sep). Malam lebaran berubah jadi horor. Apalagi waktu menunggu kabar si Sulung siuman saat keluar dari kamar operasi. Menit demi menit rasanya merangkak seperti kura-kura. Bingung doa apa yang harus dipanjatkan. Blank! Ketegangan sedikit reda saat pas tengah malam dengar si Sulung sudah siuman. Wuff... Alhamdulillah.

Si Sulung rupanya punya basis fans. Waktu ke RS dia diantar kawan-kawannya. Ada dua angkot dan beberapa motor yang mengawalnya. Gelombang kedua yang datang justru teman-teman perempuannya. Ada yang mengaku sebagai pacar pertama, kedua, ketiga, entah sampai ke berapa. Sampai ada satu dari mereka yang bertanya, "Sakit mana, lututmu yang cedera atau perasaanmu kalau aku putusin?!" Mereka masih bisa menemuan sisi lain dari sebuah horor (operasi) yang saya rasakan meneror dari jauh. Dan saat si Sulung pulang sudah diizinkan pulang ke rumah pada petang hari (24 Sep), ada dua kelompok pembesuk juga yang datang. Mereka bertanya, bagaimana rasanya saat lututnya dioperasi. Si Sulung menjawab, "Ngilu-ngilu manja". See?! Anak siapa yang suka iseng ini. @aswan