Sunday, October 25, 2015
Doa Itu Egois
SAMBIL mengikat tali sepatunya, lelaki itu berkata: "Kalau itu adalah sebuah pinta yang rahasia, kamu tidak perlu menceritakannya kepadaku. Cukup kamu dan Tuhan saja yang tahu."
"Aku kepingin cerita, tapi rasanya permohonanku begitu egois."
Tiba-tiba lelaki di sisinya tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa?!" Perempuan itu membelalak, "Apa yang lucu?!"
Menunduk dan menutup tawa dengan sebelah tangannya. Lelaki tadi seperti terseyum. "Tolong sebutkan apa ada doa yang tidak egois? Permohonan yang kita sampaikan pada Tuhan itu semuanya egois. Full of our interest. Kalau bukan egois, namanya apa coba?!"
"Even if kita mendoakan orang lain?" perempuan itu melirik dengan mengangkat kedua alisnya yang hitam.
"Iya. Karena kamu berkepentingan agar orang yang kamu doakan itu memperoleh apa yang kamu inginkan untuk mereka peroleh."
"Hmmm... iya sih."
Tali sepatunya telah terikat kembali dengan rapi. Di tangga masjid mereka masih duduk bersisian. Melihat jemaah yang keluar satu per satu dari masjid, lelaki itu melanjutkan: "Mereka semua baru saja memanjatkan doa-doa yang egois. Dan itu tidak masalah bagi Tuhan selama mereka tidak memaksa Tuhan untuk mengabulkan semuanya."
Sekarang perempuan itu yang tersenyum, "Kamu tahu dari mana Tuhan tidak senang dipaksa?!" @aswan #fiksiku
Monday, October 5, 2015
1962 Volkswagen Classic
![]() |
(c) aswan zanynu |
PERNAH tidak Anda mendapatkan sesuatu yang begitu mirip, malah lebih bagus dari yang pernah Anda bayangkan? Itu yang terjadi pada Volkswagen (VW) ini. Sudah lama saya merindukan model mobil combo. Teman yang banyak berjasa dalam 'penemuan' mobil ini menyebutnya "combo". Saya sendiri tidak terlalu tahu dengan nama itu. Mungkin tepatnya: tidak mau tahu. Hehehe.... Toh apapun namanya, yaa yang itulah yang saya maksud. Bentuknya yang klasik selalu mengingatkan saya pada masa kanak-kanak di era 70-an akhir. Gambar ini saya abadikan dengan kamera Lumia 535. @aswanpov
Monday, September 28, 2015
Berteman dengan Tuhan
TANPA saya sadari selama ini saya menganggap Tuhan itu seperti teman sendiri. Ketika waktu shalat tiba, saya minta Dia menunggu sampai saya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tanggung untuk dihentikan ketika kumandang adzan. Hanya teman (sok) akrab yang berani meminta temannya menunggu, bukan?Pernah sih saya memenuhi panggilan-Nya di awal waktu, tapi biasanya karena dua alasan. Satu, biar tidak mengganggu agenda lain yang harus tepat waktu seperti jadwal take off pesawat. Atau dua, biar perbincangan kami cepat selesai karena ada kerjaan lain yang harus saya lakukan, misalnya tidur.
Saya tahu Dia punya segalanya, makanya kepada-Nya saya meminta. Tapi sekali lagi dengan lagak layaknya seorang teman. Merasa setara dan berani kecewa saat permintaan saya tidak diberikan. Sesekali kesal. Dan dalam hubungan pertemanan unik ini, saya lebih sering ingin mendominasi. Lebih sering ingin didengarkan. Mungkin karena itu saya sulit memahami apa yang Dia inginkan. Atau tepatnya tidak mau membuka diri untuk itu. Entahlah, di saat-saat tertentu komunikasi kami rasanya buruk sekali. Kami jalan beriringan tapi tidak saling menyapa. Meski selalu bersama, saya lebih tertarik pada apa saja selain Dia. Hmmm… teman macam apa saya ini? Itu kalau kami berteman yaa.. bagaimana jika tidak?! @aswan
Saya tahu Dia punya segalanya, makanya kepada-Nya saya meminta. Tapi sekali lagi dengan lagak layaknya seorang teman. Merasa setara dan berani kecewa saat permintaan saya tidak diberikan. Sesekali kesal. Dan dalam hubungan pertemanan unik ini, saya lebih sering ingin mendominasi. Lebih sering ingin didengarkan. Mungkin karena itu saya sulit memahami apa yang Dia inginkan. Atau tepatnya tidak mau membuka diri untuk itu. Entahlah, di saat-saat tertentu komunikasi kami rasanya buruk sekali. Kami jalan beriringan tapi tidak saling menyapa. Meski selalu bersama, saya lebih tertarik pada apa saja selain Dia. Hmmm… teman macam apa saya ini? Itu kalau kami berteman yaa.. bagaimana jika tidak?! @aswan
Wednesday, September 23, 2015
Horor Malam Lebaran
SIANG saat berjalan pulang dari Perpustakaan UI Depok saya dapat kabar kalau si Sulung alami cedera saat main basket di sekolah (23 Sep). Tempurung lutut kirinya bergeser dan langsung dibawa ke RS Bhayangkara Kendari. Malam harus jalani operasi. Idul Adha besok (24 Sep). Malam lebaran berubah jadi horor. Apalagi waktu menunggu kabar si Sulung siuman saat keluar dari kamar operasi. Menit demi menit rasanya merangkak seperti kura-kura. Bingung doa apa yang harus dipanjatkan. Blank! Ketegangan sedikit reda saat pas tengah malam dengar si Sulung sudah siuman. Wuff... Alhamdulillah.
Si Sulung rupanya punya basis fans. Waktu ke RS dia diantar kawan-kawannya. Ada dua angkot dan beberapa motor yang mengawalnya. Gelombang kedua yang datang justru teman-teman perempuannya. Ada yang mengaku sebagai pacar pertama, kedua, ketiga, entah sampai ke berapa. Sampai ada satu dari mereka yang bertanya, "Sakit mana, lututmu yang cedera atau perasaanmu kalau aku putusin?!" Mereka masih bisa menemuan sisi lain dari sebuah horor (operasi) yang saya rasakan meneror dari jauh. Dan saat si Sulung pulang sudah diizinkan pulang ke rumah pada petang hari (24 Sep), ada dua kelompok pembesuk juga yang datang. Mereka bertanya, bagaimana rasanya saat lututnya dioperasi. Si Sulung menjawab, "Ngilu-ngilu manja". See?! Anak siapa yang suka iseng ini. @aswan
Si Sulung rupanya punya basis fans. Waktu ke RS dia diantar kawan-kawannya. Ada dua angkot dan beberapa motor yang mengawalnya. Gelombang kedua yang datang justru teman-teman perempuannya. Ada yang mengaku sebagai pacar pertama, kedua, ketiga, entah sampai ke berapa. Sampai ada satu dari mereka yang bertanya, "Sakit mana, lututmu yang cedera atau perasaanmu kalau aku putusin?!" Mereka masih bisa menemuan sisi lain dari sebuah horor (operasi) yang saya rasakan meneror dari jauh. Dan saat si Sulung pulang sudah diizinkan pulang ke rumah pada petang hari (24 Sep), ada dua kelompok pembesuk juga yang datang. Mereka bertanya, bagaimana rasanya saat lututnya dioperasi. Si Sulung menjawab, "Ngilu-ngilu manja". See?! Anak siapa yang suka iseng ini. @aswan
Sunday, August 23, 2015
Gawai yang Abadi
GADGET (baca: gawai) bukan trend saat smartphone mulai hadir. Jaman dulu gawai sudah dikenal. Hanya bentuk dan fiturnya yang berbeda. Kakek ibu saya pernah mewariskan sebilah keris di tahun 1990an. Jujur, saya bingung. Ini buat apa? Di mata saya saat itu, keris adalah simbol kekerasan. Paling tidak, yaa.. dapat digunakan untuk membela diri. Tapi apa iya kemana-mana saya harus membawa keris? Butuh waktu 25 tahun buat otak saya yang bebal ini untuk menyadari bahwa saya semestinya menyimpan baik-baik keris itu tapi dengan alasan historis yang satu ini.
Di masa kakek atau kakek dari ibu saya, keris adalah serupa dengan smartphone yang saya bawa. Setiap pria dewasa harus memilikinya. Itu simbol atas status dan sekaligus dapat digunakan untuk kepentingan pada zamannya. Malah menurut saya, keris jauh lebih personal. Bentuk dan fiturnya dapat sesuai keinginan si pemilik. Berbeda dengan smartphone yang cenderung seragam. Saya tiba-tiba membayangkan bagaimana reaksi cucu saya kelak, atau mungkin cucu dari cucu saya. Bisa jadi smartphone saya saat ini dilihatnya sebagai simbol kebodohan kakek moyangnya. @aswan
Di masa kakek atau kakek dari ibu saya, keris adalah serupa dengan smartphone yang saya bawa. Setiap pria dewasa harus memilikinya. Itu simbol atas status dan sekaligus dapat digunakan untuk kepentingan pada zamannya. Malah menurut saya, keris jauh lebih personal. Bentuk dan fiturnya dapat sesuai keinginan si pemilik. Berbeda dengan smartphone yang cenderung seragam. Saya tiba-tiba membayangkan bagaimana reaksi cucu saya kelak, atau mungkin cucu dari cucu saya. Bisa jadi smartphone saya saat ini dilihatnya sebagai simbol kebodohan kakek moyangnya. @aswan
Friday, August 21, 2015
Saya Menyebutnya "Dinamika"
SELAMAT Hari Jadi Pernikahan yang ke-41. Panjang umur, sehat dan saling sayang selalu. Itu petikan pesan singkat (sms) yang saya kirim ke Ayah dan Ibu. Mereka tumbuh dalam dinamika. Dulu saya menyebutnya konflik. Rasanya tidak nyaman selalu saja ada yang dipersoalkan dengan sengit. Hari-hari tak ubahnya sinetron bersambung yang penuh drama. Dalam imajinasi ideal saya saat kecil, pernikahan itu harus tenang... adem... tidak ada krasak-krusuk. Mulus meluncur seperti perahu di atas arus sungai yang tenang. Tetapi saat beranjak dewasa, saya makin sadar kalau dinamika itu alamiah. Memang sulit untuk dibahasakan. Tetapi saat Anda dewasa dan menikah, pengalaman atas dinamika itu tentu akan Anda temukan. Menikah memang tidak menjanjikan Anda akan bahagia. Tetapi bukankah hidup sendiri pun tidak memberi garansi bahwa kita akan selalu terbebas dari masalah? Jadi.. dinikmati saja. @aswan
Monday, August 17, 2015
Yang Melawan Sepi
RASANYA seperti setema dengan Lost in Translation (2003), film Her (2013) juga mengangkat kisah tentang kesepian di tengah hirup-pikuk kota. Bedanya, dalam "Her", cinta terjalin bukan antara dua orang yang kesepian, tetapi antara Theodore (diperankan Joaquin Phoenix) dan sebuah Operating System (OS) bernama Samantha. Masih miliki kemiripan, baik "Lost in Translation" maupun "Her", keduanya diperankan Scarlett Johansson. Dan sekali lagi bedanya, dalam "Her", perempuan cantik berambut blonde ini hanya memainkan suaranya. Menurutku dia berhasil memainkan suaranya. Bagi sebagian orang, mungkin film ini membosankan. Sebagian besar berisi monolog dengan frame-frame kesunyian di sebuah kota masa depan (sebenarnya film ini berlatar kota Shanghai). Warna-warna cerah yang ditampilkan kombinasi merah dan kuning, namun tetap terkesan sendu.
Tapi menurut saja, sang sutradara dan penulis cerita (Spike Jonze) berhasil menyulap monolog menjadi dialog yang hidup. Pantas ia diganjar Oscar 2014 untuk kategori Best Writing. Simaklah, meski hanya sebuah OS, di tangan Jonze tokoh Samantha itu terasa ada. Dia seperti seorang wanita menarik yang cerdas di ujung telepon. Film ini memang mengangkat tema gila, tetapi tidak mustahil akan terjadi di masa dapan ketika manusia lebih merasa dekat –bahkan jatuh cinta– dengan komputer daripada manusia. Saya suka petikan ucapan Amy (pada Theodore): "I think anybody who falls in love is a freak. It's a crazy thing to do. It's kind of like a form of socially acceptable insanity". Yaa begitulah. @aswan
Subscribe to:
Posts (Atom)