AWALNYA saya senang dengan genangan air depan rumah ini. Di siang hari kawanan burung kecil biasanya singgah minum atau bermain air di situ. Senang saja melihat mereka dari balik jendela bermain di sekitar genangan. Melompat. Berpindah. Seperti merayakan sebuah oase. Semuanya berubah ketika genangan itu melebar dan sedikit dalam menjadi kubangan. Air yang ditampung jadi lebih besar dari biasanya. Sebenarnya akan lebih indah kalau disulap menjadi kolam ikan. Tapi tentu itu akan menyesakkan. Buah mangga dekat rumah saja sering dipetik orang yang merasa itu milikinya, apalagi ikan yang ada dalam kolam di tepi jalan. Lalu diputuskanlah untuk menimbun dengan kerikit berpasir. Fantastis! Hampir separuh gaji sebulan PNS-ku habis untuk itu. Harga kerikil yang mahal atau gaji PNS yang sangat kecil, bahkan untuk menimbun oase milik kawanan burung kecil? Entahlah?! @aswan
*ga asyik ya, ujung-ujungnya curhat. hehehe...
Wednesday, February 4, 2015
Tuesday, February 3, 2015
Meramu Kembali "Taken"
Monday, February 2, 2015
After the Rain
(c) aswan zanynu |
PEMANDAGAN iseng ini saya ambil menggunakan lensa lomo dari iPhone 4, sore hari setelah hujan mengguyur pelataran MTQ, Kendari. Saya ingin bermain-main dengan perspektif. Tidak ada yang salah bukan? Saya selalu percaya, beberapa obyek akan terlihat atau mungkin terlihat lebih indah jika diintip dari sudut yang berbeda dengan cara yang tidak biasa. Sotoy banget kan?! @aswanpov
Sunday, February 1, 2015
Penjelasan Gagal Fokus
BARU melintas begitu saja di kepala penjelasan mengapa orang seperti saya sering gagal fokus. Jawabannya, karena saya ingin bebas. Tidak mau terkungkung pada jadwal atau target. Harus begini, harus begitu. Fokus kadang membuat hidup jadi begitu dipaksakan. Tidak mengalir alamiah. Padahal menikmati hidup kan harusnya dengan cara yang menyenangkan, bukan menyusahkan. Meski ada pepatah "Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian", tapi itu dulu. Prinsip terbaru dan teraktual versi saya: Kalau bisa senang, mengapa harus jalani hidup dengan cara yang susah. Ada gaya, ada harga. Dengan gaya hidup yang sering gagal fokus, saya harus membayar harga mahal dari mundurnya beberapa target. Tapi sudahlah, buat apa mengejar target di depan yang belum pasti, jika hari yang seharusnya dapat dijalani dengan indah tak kau nikmati? Gimana? Asyik kan?! @aswan
Saturday, January 31, 2015
Vitamin Bernama Harapan
ADA says: Hope is a good breakfast, but not delicious dinner. The most delicious indeed start everything with hope. Hope would be positive. Differences with anxiety or fear. But how many times we often let down by our expectations? No need to count. Other people like it anyway . Including me. When disappointed, hope that initially are vitamins, capsules are now behind and become bitter. Why ?! Perhaps because of the expectations that we create. We shape to suit our tastes. Arranged according to the imagination and everything wonderful that we want to achieve is present in it. It's all in the head. That's what we want to try looking for, find, or create in the real world. There's nothing wrong, is not it? But never did we ask ourselves on hopes it: Is it possible? If not, a little lower levels of perfection. Hehehe ... aswan
Friday, January 23, 2015
Di Siang Terik
(c) aswan zanynu |
CAHAYA matahari di Kolaka (Sulawesi Tenggara) siang itu begitu menyengat. Sebelah tangan harus saya gunakan untuk menutup kepala dan tangan lain memegang kamera DSLR. Gambar awal instagram yang terpajang dalam blog di atas diambil oleh seorang mahasiswi saya: Gita Pradana. Dia menggunakan kamera smartphone Sony Experia. Katanya, bangunan ini diklaim sebagai rumah adat Kolaka. Seorang sumber kami membantahnya. Ia menyebutkan rumah adat suku Mekongga tidak seperti ini. @aswanpov
Thursday, December 25, 2014
Moore dan Sinterklas
YANG melihat televisi atau menonton film, akan kenal dengan tokoh ini. Clement Moore mulai mendeskripsikan tokoh jenaka yang ramah pada anak-anak ini jelang Natal 1822 dalam sajak yang ditulisnya. Moore bukan penyair. Ia guru besar teologi di sebuah sekolah tinggi Kristen di New York. Begitu tulis Goenawan Mohamad (GM) dalam Catatan Pinggir (Caping) bertajuk "Santa" di majalah Tempo 21 Desember 2014. GM menyebutnya sebagai "..makhluk asing yang tak disebutkan Injil. Ia produk Eropa yang dirakit di Amerika". Tokoh rekaan Moore itu awalnya dibacakan dalam lingkungan keluarganya sendiri lalu kemudian menyebar ke dalam hidup orang Amerika, bahkan dunia. Pertama ia diberi nama Santo Nikolas. Lalu berubah menjadi Santa Klaus atau yang juga kita kenal sebagai Sinterklas.
Selain tentang ini, banyak hal baru yang saya temukan dalam Caping GM ini. Misalnya, saat orang Protestan kuasai Inggris, parlemen di sana pada 1647 mengharamkan Natal. Menurut mereka, Natal adalah "festival kepausan" yang tak berdasar pada Alkitab. Di Boston (AS), Natal juga pernah dilarang selama 20 tahun sejak 1659. Kembali ke Sinterklas, mengapa pakaiannya merah dan putih? Konon itu muncul saat penampilannya dalam iklan Coca-Cola tahun 1940-an. Karena dikesankan sebagai penghuni Kutub Utara dan melanglang buana, pemerintah Kanada pada Desember 2008 memberi Santa Klaus status kewarganegaraan. Saya melihat, agama, mitos, politik, dan bisnis sudah jalin-menjalin dalam tokoh Sinterklas. Mungkin saya salah, tapi itulah pendapat saya. @aswan
Selain tentang ini, banyak hal baru yang saya temukan dalam Caping GM ini. Misalnya, saat orang Protestan kuasai Inggris, parlemen di sana pada 1647 mengharamkan Natal. Menurut mereka, Natal adalah "festival kepausan" yang tak berdasar pada Alkitab. Di Boston (AS), Natal juga pernah dilarang selama 20 tahun sejak 1659. Kembali ke Sinterklas, mengapa pakaiannya merah dan putih? Konon itu muncul saat penampilannya dalam iklan Coca-Cola tahun 1940-an. Karena dikesankan sebagai penghuni Kutub Utara dan melanglang buana, pemerintah Kanada pada Desember 2008 memberi Santa Klaus status kewarganegaraan. Saya melihat, agama, mitos, politik, dan bisnis sudah jalin-menjalin dalam tokoh Sinterklas. Mungkin saya salah, tapi itulah pendapat saya. @aswan
Subscribe to:
Posts (Atom)