Saturday, January 31, 2015

Vitamin Bernama Harapan

ADA says: Hope is a good breakfast, but not delicious dinner. The most delicious indeed start everything with hope. Hope would be positive. Differences with anxiety or fear. But how many times we often let down by our expectations? No need to count. Other people like it anyway . Including me. When disappointed, hope that initially are vitamins, capsules are now behind and become bitter. Why ?! Perhaps because of the expectations that we create. We shape to suit our tastes. Arranged according to the imagination and everything wonderful that we want to achieve is present in it. It's all in the head. That's what we want to try looking for, find, or create in the real world. There's nothing wrong, is not it? But never did we ask ourselves on hopes it: Is it possible? If not, a little lower levels of perfection. Hehehe ... aswan

Friday, January 23, 2015

Di Siang Terik

(c) aswan zanynu

CAHAYA matahari di Kolaka (Sulawesi Tenggara) siang itu begitu menyengat. Sebelah tangan harus saya gunakan untuk menutup kepala dan tangan lain memegang kamera DSLR. Gambar awal instagram yang terpajang dalam blog di atas diambil oleh seorang mahasiswi saya: Gita Pradana. Dia menggunakan kamera smartphone Sony Experia. Katanya, bangunan ini diklaim sebagai rumah adat Kolaka. Seorang sumber kami membantahnya. Ia menyebutkan rumah adat suku Mekongga tidak seperti ini. @aswanpov

Thursday, December 25, 2014

Moore dan Sinterklas

YANG melihat televisi atau menonton film, akan kenal dengan tokoh ini. Clement Moore mulai mendeskripsikan tokoh jenaka yang ramah pada anak-anak ini jelang Natal 1822 dalam sajak yang ditulisnya. Moore bukan penyair. Ia guru besar teologi di sebuah sekolah tinggi Kristen di New York. Begitu tulis Goenawan Mohamad (GM) dalam Catatan Pinggir (Caping) bertajuk "Santa" di majalah Tempo 21 Desember 2014. GM menyebutnya sebagai "..makhluk asing yang tak disebutkan Injil. Ia produk Eropa yang dirakit di Amerika". Tokoh rekaan Moore itu awalnya dibacakan dalam lingkungan keluarganya sendiri lalu kemudian menyebar ke dalam hidup orang Amerika, bahkan dunia. Pertama ia diberi nama Santo Nikolas. Lalu berubah menjadi Santa Klaus atau yang juga kita kenal sebagai Sinterklas.

Selain tentang ini, banyak hal baru yang saya temukan dalam Caping GM ini. Misalnya, saat orang Protestan kuasai Inggris, parlemen di sana pada 1647 mengharamkan Natal. Menurut mereka, Natal adalah "festival kepausan" yang tak berdasar pada Alkitab. Di Boston (AS), Natal juga pernah dilarang selama 20 tahun sejak 1659. Kembali ke Sinterklas, mengapa pakaiannya merah dan putih? Konon itu muncul saat penampilannya dalam iklan Coca-Cola tahun 1940-an. Karena dikesankan sebagai penghuni Kutub Utara dan melanglang buana, pemerintah Kanada pada Desember 2008 memberi Santa Klaus status kewarganegaraan. Saya melihat, agama, mitos, politik, dan bisnis sudah jalin-menjalin dalam tokoh Sinterklas. Mungkin saya salah, tapi itulah pendapat saya. @aswan

Thursday, October 30, 2014

Dialog Dua Petualang

SORE ITU saya sudah berada di dalam sebuah bus di tengah kota. Berdiri. Ada kursi yang kosong, tapi tidak tega duduk di situ. Ada seorang ibu yang lebih membutuhkan. Ini yang asyik dari naik bis atau kereta. Kesempatan itu memberi peluang kepada setiap orang untuk menjadi “pahlawan”. Sok asyik ya? Atau jangan-jangan ini hanya cara saya menghibur diri karena pegal berdiri?!

Layaknya bus, di dalamnya ramai. Kali ini ajaib, tidak ramai-ramai amat. Jadi bisa mendengarkan percakapan seorang lelaki dengan perempuan imut yang duduk pas di depannya. Lelaki itu berdiri di dekat saya. “Kamu suka berpetualang?” tanya si perempuan dengan lebut. “Iya, tapi bukan di gunung atau pantai. Aku besar di tempat seperti itu,” kata lelaki tadi. Dia kemudian bercerita panjang. Saya lebih suka memperhatikan eksresi perempuan di depannya. Dia lucu. Wajahnya terlihat merona. Tiba-tiba perempuan itu memotong, “Aku juga suka berpetualang, tapi dalam dunia imajinasiku”. Mereka kemudian tertawa lepas bersama. Saya memalingkan wajah (biar tidak ketahuan kalau lagi nguping). Mungkin ini percakapan sepele, tapi buktinya mereka bahagia. @aswan

Thursday, August 28, 2014

Smart, Stylish, Cool

SAYA sudah berada di lantai 6 gedung IASTH Pasca Sarjana UI Salemba. Di depan, duduk beberapa guru besar, doktor, dan mahasiswa pasca yang berprestasi. IPK di atas 3,90 gitu. Ini semacam acara “Selamat Datang di Pasca Sarjana”. Yang menarik perhatian saya, tidak ada kesan kaku. Hanya dua orang guru besar yang disapa dengan awalan Prof. Maklum mereka memang super senior. Bahkan ada yang emeretus. Ada seorang doktor ajak ke depan untuk berbicara dengan panggilan Bang, bukan Pak. Semuanya berjalan alamiah dan sangat humanis. Wajah mereka, juga teman seangkatan pasca (S2-S3), tak ada yang nerd. Di sini stereotipe ekspresi kutu buku itu terbantahkan. Saya yakin mereka lebih cerdas dari saya. Lebih gaya dari saya. Dan sudah tentu lebih gaul daripada saya. Rasanya senang bisa masuk dalam komunitas berlabel SSC ini (Smart, Stylish, Cool). Oh ya, istilah tiga huruf itu muncul begitu saja saat berbalas pesan dengan seorang teman. Niatnya untuk menggambarkan di lapisan atmosfir mana saya sedang berada waktu itu. @aswan

Sunday, July 20, 2014

Sepasang Tangan Keberuntungan

BERARTI ada yang yang sial? Tidak gitu-gitu amat sih. Saat lihat dua lembar kupon yang menanti untuk diisi, saya tiba-tiba terpikir kalau mungkin ada tangan yang memang beruntung. Siapapun yang mengisi kupon pasti mengharapkan hadiah, bukan? Entah sudah berapa lembar kupon yang pernah saya isi, tapi yaa itu tadi, tidak pernah satu pun yang berhasil mengail untung. Dalam statistik, propabilitas kemenang dengan cara seperti itu memang sangat kecil. Apalagi bila yang ikut banyak sementara hadiah yang diperebutkan sedikit. Cuma itu tadi, hidup mengajarkan pada saya kalau ada orang yang memiliki tangan keberuntungan. Setiap kupon yang dia isi selalu berbuah hadiah. Mungkin orang seperti itu tidak banyak, tapi ada. Yang pasti orang itu bukan saya. @aswan

Wednesday, June 25, 2014

Memenangkan Rasionalitas Cinta



SINGKAT cerita, Sarah (yang diperankan Sandra Bullock) bertemu dengan Ben (Ben Affleck). Pertemuan yang hanya terjadi dua hari itu menggoyahkan niat Ben untuk menikah. Padalah dia sedang dalam perjalanan menuju sebuah kota di mana calon mempelai perempuan beserta keluarganya menunggu karena pernikahan sebentar lagi dimulai. Film berjudul Forces of Nature (1999) berkisah tentang keadaan yang menjadi penghalang sebuah pernikahan. Hujan badai, pohon tumbang, kecopetan dalam perjalanan dan bertemu dengan perempuan lain di saat yang tidak tepat. Perempuan yang membuat Ben sempat jatuh cinta. Sarah juga demikian. Tidak seperti film Hollywood lainnya yang memenangkan perasaan cinta, cerita ini justru mengingatkan pentingnya akal sehat. Cinta tidak mesti selalu diartikan "menjadi bodoh bersama-sama", bukan?! @aswan