Thursday, August 28, 2014
Smart, Stylish, Cool
SAYA sudah berada di lantai 6 gedung IASTH Pasca Sarjana UI Salemba. Di depan, duduk beberapa guru besar, doktor, dan mahasiswa pasca yang berprestasi. IPK di atas 3,90 gitu. Ini semacam acara “Selamat Datang di Pasca Sarjana”. Yang menarik perhatian saya, tidak ada kesan kaku. Hanya dua orang guru besar yang disapa dengan awalan Prof. Maklum mereka memang super senior. Bahkan ada yang emeretus. Ada seorang doktor ajak ke depan untuk berbicara dengan panggilan Bang, bukan Pak. Semuanya berjalan alamiah dan sangat humanis. Wajah mereka, juga teman seangkatan pasca (S2-S3), tak ada yang nerd. Di sini stereotipe ekspresi kutu buku itu terbantahkan. Saya yakin mereka lebih cerdas dari saya. Lebih gaya dari saya. Dan sudah tentu lebih gaul daripada saya. Rasanya senang bisa masuk dalam komunitas berlabel SSC ini (Smart, Stylish, Cool). Oh ya, istilah tiga huruf itu muncul begitu saja saat berbalas pesan dengan seorang teman. Niatnya untuk menggambarkan di lapisan atmosfir mana saya sedang berada waktu itu. @aswan
Sunday, July 20, 2014
Sepasang Tangan Keberuntungan
BERARTI ada yang yang sial? Tidak gitu-gitu amat sih. Saat lihat dua lembar kupon yang menanti untuk diisi, saya tiba-tiba terpikir kalau mungkin ada tangan yang memang beruntung. Siapapun yang mengisi kupon pasti mengharapkan hadiah, bukan? Entah sudah berapa lembar kupon yang pernah saya isi, tapi yaa itu tadi, tidak pernah satu pun yang berhasil mengail untung. Dalam statistik, propabilitas kemenang dengan cara seperti itu memang sangat kecil. Apalagi bila yang ikut banyak sementara hadiah yang diperebutkan sedikit. Cuma itu tadi, hidup mengajarkan pada saya kalau ada orang yang memiliki tangan keberuntungan. Setiap kupon yang dia isi selalu berbuah hadiah. Mungkin orang seperti itu tidak banyak, tapi ada. Yang pasti orang itu bukan saya. @aswan
Wednesday, June 25, 2014
Memenangkan Rasionalitas Cinta
SINGKAT cerita, Sarah (yang diperankan Sandra Bullock) bertemu dengan Ben (Ben Affleck). Pertemuan yang hanya terjadi dua hari itu menggoyahkan niat Ben untuk menikah. Padalah dia sedang dalam perjalanan menuju sebuah kota di mana calon mempelai perempuan beserta keluarganya menunggu karena pernikahan sebentar lagi dimulai. Film berjudul Forces of Nature (1999) berkisah tentang keadaan yang menjadi penghalang sebuah pernikahan. Hujan badai, pohon tumbang, kecopetan dalam perjalanan dan bertemu dengan perempuan lain di saat yang tidak tepat. Perempuan yang membuat Ben sempat jatuh cinta. Sarah juga demikian. Tidak seperti film Hollywood lainnya yang memenangkan perasaan cinta, cerita ini justru mengingatkan pentingnya akal sehat. Cinta tidak mesti selalu diartikan "menjadi bodoh bersama-sama", bukan?! @aswan
Sunday, June 22, 2014
Cinta yang Dikondisikan
MUNGKIN cinta bisa dikondisikan. Maksudnya manusia dapat menciptakan sebuah keadaan yang memungkinkan tumbuhnya cinta antara lelaki dan perempuan. Pernah nonton film kartun Doraemon? Yang punya kantung ajaib dan baling-baling bambu itu kan? Right. Kepada siapa Nobita begitu terobsesi? Sizuka! Nah, itu yang saya maksud. Nyambungnya di mana? Begini, karena dalam kesehariannya sang sutradara mengkondisikan Nobita untuk selalu bertemu Sizuka, di situlah tumbuh cinta yang terkondisikan. Padahal sutradara bisa mendekatkannya dengan tokoh anak perempuan lain. Obsesi pada Sizuka seperti ini bisa berdampak sistemik pada tumbuh kembang mental Nobita. Mungkin niat sutradara untuk menggambarkan kesetiaan seorang bocah. Tetapi ini bisa bahaya kalau disalahartikan oleh anak-anak. Sebagai sesama lelaki, saya sangat prihatin. Kasihan Nobita. @aswan
Wednesday, June 18, 2014
Hujan Bulan Juni
NAMANYA Sapardi Djoko Damono. Orang mungkin mengenalnya dari sajaknya yang berjudul Aku Ingin. Yup. Saya juga sepertinya pertama kali suka sama puisinya dari situ. "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan..." Indah sih. Apalagi untuk mereka yang sedang kasmaran dan tidak punya cukup nyali menyatakannya. Hehehe... Tapi Sapardi tidak sesederhana kata dalam puisinya tadi. Ia guru besar. Dapat penghargaan di sastra dunia. Sajaknya diterjemahkan ke bahasa bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Portugis, Arab, China, Jepang, Korea, Thai, dan Hindi. Saya juga baru tahu kalau sajaknya juga ditulis dalam bahasa Jawa dan Bali. "Hujan Bulan Juni" salah satu judul kumpulan puisinya yang beberapa kali diulang cetak. Recommended! @aswan
Friday, June 13, 2014
Demokrasi: Have Fun
POLITIK itu seni untuk kekuasaan. Orang awam mungkin kelihatannya serius, jadi terlalu berlebihan jika menggunakan kata "seni". Tapi jika perharikan apa di balik politik, kita akan temukan kalau sebenarnya itu hanya "main-main" para elit. Mereka mengajak orang kecil seperti saya dan beberapa lainnya untuk itu bermain. Makin banyak yang ikut "bermain", makin kuat keabsahan hasilnya. Jadi tidak usah berpolitik nih? Eh jangan. Kita mesti ikut dengan segala kesadaran. Kalau apolitik, jangan-jangan kita malah jadi mainan elit. Karena demokrasi menjamin kebebasan berpendapat dan memilih, jadi have fun saja. Serius, tapi tidak serius-serius amat. Dukung siapa calon yang kita suka, tapi tak perlu jadi semacam die hard fans juga. It's just a game. @aswan
Monday, June 9, 2014
Momo dan Raisa
TIAP kali dengar suara Momo (vokalis Geisha) bawakan “Lumpuhkan Ingatanku”, saya selalu ingat Denpasar. Emang ketemuan di sana? Secara resmi tidak, tapi secara teknis sih iya. Di kunjungan kedua saya ke Bali, hits itu booming. Diputar di radio seantero Denpasar. Artinya secara audio, saya 'ketemu' Momo di sana. Halah, ribet! Kenyataannya kan memang begitu. Dan di suatu pagi hujan, setelah membaca artikel tentang Momo, saya tiba-tiba ingin membandingkannya dengan Raisa. Dalam persepsi saya, jika disederhanakan menjadi tiga kata, Raisa itu: perfeksionis, jazzy, friendly. Sementara Momo: lugu, pop, misterius. Kelebihan Momo ada pada karakter vokalnya yang khas. Sementara Raisa punya kemampuan 'mengendalikan' liuk suara. Gimana, sudah terdengar meyakinkan analisisnya? Ini orisinal lho?! ;) @aswan
Subscribe to:
Posts (Atom)