Monday, August 17, 2015

Yang Melawan Sepi



RASANYA seperti setema dengan Lost in Translation (2003), film Her (2013) juga mengangkat kisah tentang kesepian di tengah hirup-pikuk kota. Bedanya, dalam "Her", cinta terjalin bukan antara dua orang yang kesepian, tetapi antara Theodore (diperankan Joaquin Phoenix) dan sebuah Operating System (OS) bernama Samantha. Masih miliki kemiripan, baik "Lost in Translation" maupun "Her", keduanya diperankan Scarlett Johansson. Dan sekali lagi bedanya, dalam "Her", perempuan cantik berambut blonde ini hanya memainkan suaranya. Menurutku dia berhasil memainkan suaranya. Bagi sebagian orang, mungkin film ini membosankan. Sebagian besar berisi monolog dengan frame-frame kesunyian di sebuah kota masa depan (sebenarnya film ini berlatar kota Shanghai). Warna-warna cerah yang ditampilkan kombinasi merah dan kuning, namun tetap terkesan sendu.

Tapi menurut saja, sang sutradara dan penulis cerita (Spike Jonze) berhasil menyulap monolog menjadi dialog yang hidup. Pantas ia diganjar Oscar 2014 untuk kategori Best Writing. Simaklah, meski hanya sebuah OS, di tangan Jonze tokoh Samantha itu terasa ada. Dia seperti seorang wanita menarik yang cerdas di ujung telepon. Film ini memang mengangkat tema gila, tetapi tidak mustahil akan terjadi di masa dapan ketika manusia lebih merasa dekat –bahkan jatuh cinta– dengan komputer daripada manusia. Saya suka petikan ucapan Amy (pada Theodore): "I think anybody who falls in love is a freak. It's a crazy thing to do. It's kind of like a form of socially acceptable insanity". Yaa begitulah. @aswan

Sunday, July 26, 2015

Cinta 500 Hari


STEREOTIP perempuan sebagai makhuk emosional dalam sebuah hubungan ingin dibantah film ini. Marc Webb, sutradara 500 Days of Summer (2009) menunjukkan hal yang sebaliknya. Seorang lelaki dapat saja menjadi begitu melankolis setelah sebelumnya dibuat melambung bahagia. Penggunaan narator dan panduan angka hari ke-... (yang bergerak maju dan mundur) membuat cara bertuturnya terasa berbeda dengan film drama lainnya. Visual yang terkadang menggunakan sketsa dan tampilan dua atau lebih frame adegan sekaligus, memperjelas beberapa kontradiksi yang dirasakan Tom, si tokoh utama yang diperankan Joseph Gordon-Levitt. Esensi utama film ini ada pada tokoh Summer (Zooey Deschanel). Dia ingin menunjukkan bahwa beberapa hal dalam hidup terjadi begitu saja, termasuk apa yang oleh orang lain dirasakan sebagai cinta. "There's no such thing as love, it's fantasy," katanya. @aswan

Sunday, July 5, 2015

Es Jeruk Hangat

KAMI lama saling mendiskusikan kata atau frase yang pas untuk nama blog si Sulung. Bukan inisiatifnya sih untuk membuat blog. Sebagai ayah, saya menggunakan hak untuk mempengaruhi dia. Entah dia kemudian mau membuat blog karena kesadarannya atau karena buah dari tekanan yang saya berikan. Tapi saya menyukai dinamika yang terjadi dalam pemilihan nama. Semua nama yang kesannya serius berwibawa, kebarat-baratan, hingga yang aneh dan paling hancur, sudah saya ajukan.  
       "Bagaimana kalau nama makanan favoritmu," saya memberi opsi dengan nada putus asa, "Nasi goreng, mungkin?"
       "Hmmm.. mainstream. Es Jeruk Hangat!" katanya yakin.
       "Kenapa?"
       "Biar beda saja."
Dan blog itu pun saya buat. Selang beberapa hari kemudian saya baru sadar bahwa nama itu tidak sekedar beda. Ada nuansa kontradiktif di dalamnya. Seperti hidup, tidak ada hitam atau putih saja. Semua warna bercampur aduk meski. Kombinasinya tidak dapat 100 persen kita kendalikan. Tidak jarang begitu abstrak hingga bertolak belakang satu sama lainnya. Es Jeruk Hangat mengajarkan pada saya bahwa di setiap ironi mungkin saja ada kelucuan. @aswan

Thursday, July 2, 2015

Imajinasi itu Asyik

SEORANG teman tiba-tiba mengeluhkan apa yang dia jalani. "Aku hidup dalam imajinasiku. Segalanya ingin aku lihat, ingin aku cocok-cocokkan dengan apa yang aku impikan." Begitu katanya. But let me say. Apa ada orang yang tidak hidup dalam imajinasinya? Kita semua hidup dalam imajinasi kita. Kita belajar, bekerja, melakukan aktivitas sehari-hari untuk mewujudkan imajinasi kita atas hidup yang ingin kita jalani. Manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh mimpi-mimpinya. Bedanya, ada yang sadar kalau apa yang ia jalani adalah bagian dari imajinasinya dan mempersoalkannya (seperti teman saya tadi). Ada pula yang sekedar menjalani hidup seperti yang mereka inginkan, yang mereka impikan tanpa mempersoalkannya. Asal jangan jadi yang ketiga, yang menolak menerima hidup jika itu tidak seperti yang mereka imajinasikan. Mereka ada dalam jebakan imajinasi yang mereka ciptakan sendiri.

Menurut teori Imajinasi saya, dua hal yang penting yang harus ada dalam sebuah jaring imajinasi yang aman, yang tak menjebak seperti tadi. Pertama, saya masih dapat membedakan mana cita, mana realita. Jangan mencampuradukkan kedua hal itu. Cita ada di dunia ideal yang saya bentuk sendiri. Realita ada di dunia nyata, di mana saya tidak sendiri. Ada campur tangan pihak lain di situ. Jadi saya harus berdamai dengan itu. Kedua, imajinasi itu penting karena itu yang membuat saya berusaha. Mendorong saya melakukan apa yang saya inginkan dengan senang hati. Bekerja dengan imajinasi seharusnya membuat saya bahagia. Bahagia karena di ujung jalan menanti impian yang saya perjuangkan. Kalau impian itu tak kunjung ada, setidak saya harus bahagia karena sudah melakukan apa yang memang ingin saya lakukan. Imajinasi seharusnya membuat saya bersyukur, akur dengan kenyataan. Asyik. @aswan

Friday, June 26, 2015

Pengabdi Tuan Kejahatan


TUNDA dulu keinginan Anda jika ingin menonton Despicable Me (2010) atau Despicable Me 2 (2013). Film Minions (2015) ini sebaiknya ditonton lebih dulu. Meski dirilis belakangan, dari sini kita akan tahu mengapa sampai para minions begitu mengabdikan hidupnya pada tuan mereka. Sejarahnya panjang. Pencarian dari satu tuan (yang dianggap jahat) ke tuan yang lain (yang mereka pikir lebih jahat). Kisah film ini seolah memberi alasan mengapa  para minions begitu mendewakan tuan mereka. Namun masih tetap tidak jelas juga mengapa mereka senang pada tuan yang jahat. Makin jahat, makin keren. Mereka mungkin personifikasi sosok setan dalam kemasan yang menggelikan. Bukankan di setiap biang kejahatan, ada para pengabdi yang selalu siap membantu? @aswan

Tuesday, June 16, 2015

Menggugat Potret Dinosaurus

SIAPA yang pernah menyaksikan Dinosaurus dan kawan-kawannya hidup? Detail bentuk tubuh mereka. Cara mereka berperilaku. Tumbuh kembang mereka. Ilmuwan hanya menemukan kerangka Dinosaurus. Menyusun. Lalu direka ulang konstruksi tulang itu menjadi sebentuk makhluk yang sekarang kita saksikan terpampang dalam buku ilmu pengetahuan atau di film bergenre fiksi ilmiah. Sangat spekulatif. Bagaimana memverifikasi spekulasi itu? Hamat saya, ini tentang kesepakatan para ilmuan saja. Sepakat pada satu versi spekulasi yang paling masuk akal. Dari situlah spekulasi-spekulasi 'ilmiah' berikutnya dibangun oleh satu generasi ke generasi berikutnya. Baik dalam bentuk ilmiah hingga populer. Dengan kewenangan ilmiahnya, ilmuwan dapat mengemas spekulasi menjadi sebentuk kebenaran meski sangat spekulatif sifatnya. @aswan


Wednesday, June 10, 2015

Kunang-kunang di Beranda

MALAM belum terlalu larut. Aku dan kunang-kunang berbincang di beranda. "Kamu tahu apa yang berpendar itu?" tanyanya sambil menunjuk ke langit.
       "Bintang," kataku yakin.
"Bukan. Itu bukan bintang. Itu kunang-kunang. Mereka kakak-kakak kami."
       "Oh ya?!" aku sedikit membelalak. "Kok bisa?!"
"Bangsa kami sebenarnya berasal dari langit. Matahari itu adalah para pejantan yang bersatu. Cahayanya terik menyengat. Bulan itu adalah kunang-kunang betina yang membentuk konfigurasi tertentu secara berpola. Kalian menyebutnya bulan muda, bulan purnama, hingga bulan tua. Iya kan?"
       Aku mengangguk tapi dengan ekspresi tidak yakin.
"Percayalah. Apa yang aku katakan ini benar. Kami yang turun ke bumi adalah sekawanan anak kunang-kunang yang singgah bermain di waktu malam. Kami suka berbagi cerita dengan para petarung yang kalah."
       Aku tersenyum, "Baiklah. Aku percaya. Kamu masih punya cerita yang lain?"
"Masih. Masih ada," kata kunang-kunang yang lain. "Kamu masih mau mendengarkan?!"

@aswan